Berita Regional

Minum Obat Penambah Darah dari Dinas Kesehatan, 58 Siswi MTS Masuk UGD

Sekitar 58 siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, dilarikan ke UGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buton.

Minum Obat Penambah Darah dari Dinas Kesehatan, 58 Siswi MTS Masuk UGD
KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE
Sebanyak 58 siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, dilarikan ke UGD RSUD Buton setelahmeminum obat penambah darah, Rabu (25/7/2018). 

POS-KUPANG.COM | BUTON - Sekitar 58 siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, dilarikan ke unit gawat darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buton.

Para siswi ini diduga mengalami keracunan usai meminum obat penambah darah (FE) di sekolahnya yang diberikan dari Dinas Kesehatan ( Dinkes) Kabupaten Buton.

Baca: Abrasi di Lewoleba Makin Meresahkan

"Ini karena minum obat yang dikasih dari dinas kesehatan, katanya program pemerintah, ternyata mau bunuh orang," kata orangtua siswa, Hanisa kepada sejumlah media di RSUD Buton, Rabu (25/7/2018).

Hanisa harus merawat kedua anaknya dirawat inap di RSUD setelah pingsan dan mengeluhkan sakit perut, mual dan pusing.

Ia menambahkan, banyak pelajar lainnya sudah pulang setelah mendapatkan perawatan di RSUD Buton namun masih merasakan pusing-pusing.

"Yang satu sudah dibawah pulang namun masih pusing juga, pihak ugd anak-anak biar masih pusing sudah dipaksa pulang, padahal anak-anak lagi pusing. Kita harapkan anak-anak dia sehat, karena kita punya anak pergi sekolah dia sehat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buton, Sumardin, membantah bila puluhan siswi tersebut keracunan setelah mengonsumsi obat penambah darah atau FE.

"Ini bukan keracunan, tapi ini efek samping dari pada obat. Efek obat ini, yang konsumsi obat ini akan muncul kontraindikasi, efeknya mual dan muntah," ucap Sumardin.

Ia menjelaskan, obat yang diminum para siswi tersebut merupakan obat penambah darah (FE) yang merupakan program nasional dari Kementrian Kesehatan yang diberikan secara khusus kepada siswa wanita umur 12 -18 tahun.

Sumardin menambahkan, obat tersebut sudah dibagikan ke sekolah-sekolah lainnya di Kabupaten Buton.

Ke depannya ia akan melakukan evaluasi dengan seluruh puskesmas di Kabupaten Buton. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved