Catatan Sepakbola

Di atas Keindahan Bola, Bertahta Sang Pengadil

Para pengadil itu terus berlari sepanjang permainan, seperti juga para pemain bola yang terus berlari. Bedanya, kaki dan bagian

Di atas Keindahan Bola, Bertahta Sang Pengadil
ilustrasi 

Ahh, sudahlah....baiklah kita arungi lagi ingatan kolektif tentang momen puncak Piala Dunia Rusia, serta aneka suasana batin warga bumi yang mengiringinya. Bukankah oleh karena perjalanan waktu, ingatan kolektif tentang Rusia 2018 itu akan tertinggal menjadi kenangan belaka?

Kenangan yang beraroma jenaka dimana sedih dan gembira bercampuraduk menyatu. Kenangan perihal kesenangan dalam hitungan hari, oleh karena negara idola bola yang kita dukung menang.

Kenangan tentang kesedihan dalam hitungan jam, oleh karena idola yang dibanggakan justru kalah dan terusir pulang lebih awal. Kenangan tentang perang olok-olok antar-pendukung di medsos, yang anehnya tidak melukai hati, tapi justru menghibur batin. Magis bola? Ya. Itulah alasan dari semua kenangan ini.

***

Sejenak mari buka `VAR' (Video Asli Rekaman) partai puncak Piala Dunia yang mungkin kita punyai. Ada pemandangan nan kontras, dan mungkin bisa disebut sebagai misteri dari magis bola, saat laga Modric dan kawan-kawan kontra Mbappe dan kolega di Luzhniki Stadium.

Terasa betul, ada jarak yang tipis antara kemalangan dan keberuntungan. Dua lakon antagonis itu terbagi habis pada diri Mario Mandzukic dan Ivan Perisic. Anehnya, ada Antoni Griezmann diantara kesialan yang mengapit Madzukic dan Perisic.

Madzukic membuat gol bunuh diri (own gol) saat hendak membendung tendangan bola mati Griezman. Sami mawon dengan Mandzukic, Perisic pun tertimpa kesialan pasca tendangan pojok Griezmann. Kesialan Perisic ini justru merupakan keberuntungan Griezmann yang menceploskan bola tendangan pinalti ke gawang Danijel Subasic.

Keberuntungan memang datang bertamu di hati Mandzukic, saat pemain jangkung itu mencuri satu gol dari kebodohan Hugo Lloris. Skema `gol blunder' di gawang Lloris ini, mirip benar dengan skema `gol blunder' kiper Liverpool, Loris Karius di final Liga Champions 2018 yang dimenangkan Real Madrid.

Bedanya, Lloris dari Jerman melempar bola dengan tangan yang disambar cepat oleh Benzema. Sedangkan Lloris dari Prancis melepas bola dengan tendangan pelan yang disambar Mandzukic. Seusai gol Mandzukic, Lloris mengangkat dan melipat tangannya di belakang kepala sebagai tanda penyesalannya sekaligus pertanda kebodohannya.

Nah, bluder bodoh dua kiper ini pun menyimpan bau misteri di sana. Dua kiper itu sama-sama punya nama yang berbunyi "loris". Aneh kan? Tapi nyata juga bukan? Maka, bingung-bingunglah kita oleh karena kisah dan logika bola. Hahaha....!

Gol Mandzukic di menit-menit penghujung laga telah menutup malu gol bunuh diri yang dibuatnya di awal laga. Sebaliknya hands-ball Perisic yang dilakukannya di kotak pinalti Kroasia, justru telah menghapus habis kebanggaan dari gol mengesankan dan seksi yang dibuatnya di tengah laga.

Perisic, oh Perisic, kau yang mulai, kau pula yang mengakhiri. Premis gol bunuh diri Mandzukic dan premis hands-ball Perisic, merupakan bukti kuat kegugupan Kroasia saat harus `berperang' dengan Prancis yang mengusung reinkarnasi mental pasukan Napoleon Bonaparte.

Terlepas dari kegugupan akut yang melanda Kroasia, harus diakui bahwa Kroasia hebat. Tetapi, yang pasti, Prancis lebih hebat. Gol Paul Pogba dan Kylian Mbappe membuktikan bahwa regenerasi pasukan Prancis berakhir manis. Prancis di bawah asuhan Didier Deschamps telah menorehkan sejarah indah bagi sepakbola negerinya, dan tentu saja bagi dirinya sendiri.

***

Di titik kulminasi psikologis suasana Piala Dunia 2018, bangsa kita yang sebagian besarnya adalah penggemar bola, bahkan tidak sedikit yang cukup terlatih sebagai penonton dan komentator, dikejutkan oleh seorang anak kampung pedalaman Nusa Tenggara Barat.

Mohamad Zohri namanya! Sembari mengucap syukur kepada TUHAN atas "kelahiran" Zohri sebagai Juara Dunia Lari 100 Meter dalam kejuaraan dunia di Finlandia, sebagian dari kita mungkin cemas lantaran khawatir prestasi Zohri yang sangat membanggakan Indonesia itu, dicaplok sebagai 'komoditas politik' oleh kaum politikus instan negeri ini.

Kita pantas bersyukur berulang-ulang karena di tengah mimpi-mimpi muluk Indonesia suatu saat bisa tampil di ajang Piala Dunia, kita sebagai bangsa malah diberi kebanggaan yang luar biasa oleh seorang anak kampung bernama Zohri. Pemuda lugu ini seolah beranjak dari titik nol meloncat ke titik seribu, dari bukan apa-apa menjadi pahlawan (from zero to hero).

Semoga popularitas yang diperoleh Zohri di tengah suasana demam Piala Dunia 2018, tidak membuat dia alpa untuk merawat integritas keatlitannya, agar jiwa petarungnya sebagai olahragawan pun tidak melemah. Bukankah cahaya kamera yang berkilauan dapat saja mengakibatkan mata siapapun menjadi silau, tak terkecuali Zohri?

Balik lagi kita pada aroma puncak Rusia 2018. Kroasia hebat dan fenomenal karena mampu menembus final. Apakah Kroasia bakal menjadi juara Piala Dunia 2018? Pertanyaan ini lumrah dan agak masif muncul dari banyak analis bola.

Hasil analisis sederhana ditambah sedikit bonus firasat dari beberapa pengamat bola, menyatakan Kroasia memang belum akan keluar sebagai juara pada Piala Dunia 2018. Pencapaian tertinggi bagi Kroasia sudah mereka capai, yaitu menjadi finalis.

Ketrampilan, determinasi, dan ketahanan mental Krosia memang nyaris seimbang dengan Prancis. Tetapi, di luar faktor teknis, ada faktor keberuntungan sebagai faktor non-teknis yang bergerak seturut hukum natur.

Pada titik inilah, Kroasia tak kuasa menolak gerak hukum natur, yakni bergerak dan naik secara bertahap. Maka, Kroasia pun harus berproses di satu atau dua piala dunia lagi, sebelum benar-benar menjadi juara dunia.

Prediksi, proyeksi, atau mungkin ramalan atas Kroasia memang terbukti kebenarannya. Hal mana terbukti dengan tampilnya Prancis sebagai juara dunia untuk kedua kalinya setelah 1998.

Bersamaan dengan itu, Deschamps telah menulis sejarah bagi dirinya sebagai "orang ketiga" yang mampu membawa pulang Piala Dunia, dalam kapasitasnya sebagai Pemain dan Pelatih. Dua legendaris sebelum Deschamps adalah Mario Zagalo bersama Brasil dan Franz Beckenbauer bersama Jerman.

Kegembiraan warga bumi oleh karena bola kini usai sudah. Di atas keindahan bola, bertahta sang pengadil. Relatif sama dengan ziarah insan manusia di bumi yang suatu saat pun bakal usai.

Jauh di atas ziarah kehidupan insan manusia, bertahtalah TUHAN Penguasa Langit dan Bumi. Salam sukacita dan damai sejahtera bagi kita semua. TUHAN memberkati selalu.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved