Berita Lembata

Ming Tewas dengan Luka di Tangan

Kematian itu sebuah misteri. Tak diketahui kapan datangnya dan dengan cara apa seseorang menemui akhir hidupnya

Ming Tewas dengan Luka di Tangan
ISTIMEWA
Yohanis Wila Mira

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Frans Krowin

POS- KUPANG.COM|LEWOLEBA -- Kematian itu sebuah misteri. Tak diketahui kapan datangnya dan dengan cara apa seseorang menemui akhir hidupnya. Demikian pula yang dialami Muhammad Ming, pria uzur (87), warga Dusun Lewehe, Desa Hingalamengi, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata.

Ketika pergi ke kebun, Senin (16/7/2018) sekitar pukul 08.00 Wita, Ming melangkah seorang diri. Tak satu keluarga, sahabat atau kenalan pun yang menemaninya berjalan ke tempat yang hendak dituju. Akan tetapi tatkala ia pulang, Ming justru dihantar dengan tangis dan air mata. Ming ditemukan telah tewas di kebun dengan luka lecet di siku tangan kanannya.

Kepada Pos Kupang.Com di Lewoleba, Rabu (18/7/2018) pagi, Kasat Reskrim Polres Lembata, Iptu Yohanis Wila Mira, menuturkan, korban ditemukan dalam keadaan tergeletak di tanah.

Tak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Hanya saja, ada sebuah luka kecil di siku tangan korban. Luka itu luka baru yang diduga akibat korban jatuh dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Dalam kasus penemuan jenazah korban di kebun itu, lanjut Yohanis, polisi telah mengambil langkah-langkah hukum. Upaya yang dilakukan, yaitu memeriksa tiga saksi mata yang pertama kali menemukan korban di tempat kejadian perkara (TKP).

Tiga saksi itu, yakni anak kandung korban, Fransina Kewa, berikutnya Samsudin, seorang guru di desa Hingalamengi dan ketiga, Abdullah Dato.

Selain meminta keterangan para saksi, lanjut dia, polisi juga meminta dokter untuk melakukan visum atas tubuh korban. Dari hasil visum et repeertum tersebut diketahui tak ada tanda-tanda kekerasan di tubub korban. Keterangan para saksi pun sesuai dengan kondisi jenazah.

Data lainnya menyebutkan, sejak lama korban menderita anemia. Penyakit itu juga yang membuat keluarga untuk selalu mengingatkan korban agar tak boleh jauh dari rumah. Apalagi ke kebun seorang diri seperti yang dilakukan korban saat ajal hendak menjemputnya.

Oleh karena itu, kata Yohanis, tatkala korban ditemukan telah meninggal dunia di kebun, keluarga pun menerima kenyataan itu sebagai jalan hidup korban.

"Keluarga menyatakan menerima kejadian itu secara iklas dan memaknai kematian itu sebagai jalan hidup korban," ujar Yohanis. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved