Opini Pos Kupang

Pemimpin Demokratis dan Pengakuan Akan Kritik

Demokrasi tanpa kritik adalah demokrasi yang semu dan pemerintahan tanpa kritik adalah pemerintahan yang bercorak otoriter.

Kedua, kritik diperlukan karena kebenaran bukan monopoli satu orang. Dalam kritik ditekankan perbincangan rasional di mana argumen-argumen berperan sebagai unsur emansipatoris. Kebenaran bukan hanya didominasi oleh satu orang. Kebenaran hanya dapat menjadi kebenaran publik jika terus-menerus bertahan dan terbuka terhadap kritik.

Ketiga, kritik adalah pelopor kemajuan sebuah komunitas. Kemajuan tidak akan mungkin terjadi seandainya situasi manusia tetap sama. Dalam sebuah komunitas, kritik menjadi alat kontrol bagi komunikasi yang sudah menyimpang dari tujuan semula.

Sikap Pemimpin terhadap Kritik

Fungsi komunikasi sebagaimana mestinya ialah melontarkan kritik terhadap apa saja yang menyimpang dari kepentingan dan kebenaran umum. Andaikan sebuah komunikasi terdistorsi, ia juga menjadi sasaran dari kritik itu sendiri. Komunitas yang sakit karena distorsi komunikasi memerlukan kritik sebagai tabib.

Kritik berfungsi untuk memberikan pencerahan bagi budi manusia yang berusaha untuk menolak perubahan yang ada. Komunitas tanpa kritik tidak akan berkembang. Ia melanggengkan kekuasaan pemimpin komunitas untuk tetap mempertahankan kemapanannya.

Mengkritik adalah bagian dari dinamika demokrasi dan komunikasi yang transparan adalah syarat terwujudnya pemerintahan yang baik. Oleh karena itu, pejabat negara maupun pemerintahan tidak harus "alergi" terhadap kritik yang datang dari masyarakat jika ingin menjadikan negara ini lebih baik dan ingin membersihkan lembaga pemerintahan dari unsur-unsur destruktif. Para pemimpin seharusnya tak perlu resah kala dikritik. Justru ia seharusnya berterimakasih atas kritikan dan berempati kepada orang yang mengkritik.

Ia berterimakasih karena kebijakannya direspons serta berempati dengan bertanya: mengapa pemerintah/kepemimpinan saya harus dikritik. Pemimpin dengan demikian harus menyadari bahwa kritik selalu berasal dari ketidaknyamanan si pengkritik.
Pengkritik mungkin memiliki perasaan tidak nyaman atas kebijakan pemerintah.

Dengan demikian, kritik tidak lahir secara tiba-tiba. Selalu ada persoalan yang mendahuluinya, yang butuh dikritisi, ditata ulang, direvisi lagi.

Pemimpin harus membuka diri dan membuat refleksi atas masukan-masukan dari luar. Memang tidak mudah menilai sebuah kejujuran dan menetapkan sebuah masalah berdasarkan sudut pandang objektif atau subjektif.

Sejernih-jernihnya memandang apalagi menyikapi masalah, pasti ada perbedaan pandangan antara satu dan lain orang atau lembaga yang satu dengan lembaga yang lainnya. Namun sang pemimpin tidak perlu merasa kebakaran jenggot kalau kritik itu memang benar dan sesuai dengan fakta yang tengah dihidupi.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved