Jumat, 12 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (6-Habis)

Seperti kata Jude Kelly sejak awal di Liverpool, sebelum menolong orang lain pastikan dirimu sudah tidak punya masalah. Wellbeing penting

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Dicky Senda 

Akhir dari Perjalanan Drivers for Change

Oleh Dicky Senda

POS-KUPANG.COM -- Ketika pertama kali tiba di UK Border Bandara Heathrow di London, sang petugas imigrasi berkelakar bahwa Port Talbot adalah salah satu kota yang sangat tidak menarik. Tapi bagi saya ia menarik.

Ia terletak di Wales negara kontituen Britania Raya, dengan bahasanya sendiri dan setiap penunjuk jalan ada tulisan berbahasa Inggris dan berbahasa Wales. Oya, welsh cake juga enak, kue tradisional Wales dengan banyak kismis.

Seperti kata Jude Kelly sejak awal di Liverpool, sebelum menolong orang lain pastikan dirimu sudah tidak punya masalah. Wellbeing penting diperhatikan para aktivis sosial.

Dalam pagi ini sebelum berangkat ke Port Talbot, kami diajak untuk membangun rutinitas positif bagi diri, tubuh dan jiwa, dimulai dari pencapaian-pencapaian kecil yang potensial untuk dilakukan.
Contoh, jika diet itu terlalu besar dan sulit, maka mulailah dulu dengan hal kecil setiap hari misalnya dengan banyak minum air putih dan bikin jus sendiri.

Jika rata-rata setahun orang membaca 12 buku, kamu bisa memulai pencapaian kecil dengan membaca 20 menit setiap pagi.

Sekilas suasana di depan House of Lords, gedung parlemen UK
Sekilas suasana di depan House of Lords, gedung parlemen UK (FOTO DICKY SENDA)

Jadi sebelum bicara kesejahteraan banyak orang, kesetaraan ekonomi bagi semua orang dan seterusnya, kita sebagai aktivis SE sudah harus sejahtera lahir batin dulu. Dan itu harus dijaga, dipelihara, ditingkatkan setiap hari.

***

Sesi berikutnya di Tai Tarian Port Talbot sangat menarik dan baru bagi saya. Bagaimana sebuah perusahaan properti bekerja dengan pendekatan SE. Bagaimana stabilitas ekonomi antara perusahaan properti, penyewa atau pembeli rumah terjadi.

Pertama, bisnis yang diacu Tai Tarian adalah mendukung kesejahteraan finansial penyewa atau pembeli rumah. Kok bisa? Rumah bukan saja dijual atau disewakan dengan harga terjangkau (dikontrol pemerintah), tapi Tai Tarian memberikan jasa nasihat, dukungan dan saran keuangan, bagaimana memaksimalkan pendapatan dan mengelola keuangan dalam rumah. Mereka tidak mau ada kredit macet.

Kedua, Tai Tarian selalu memakai kontrakor lokal dalam setiap pekerjaan mereka. Ada dampaknya, banyak menyerap tenaga kerja dari warga lokal. Keuntungannya tetap disisihkan untuk mendukung proyek sosial di lingkungan sekitar, ada sekolah, gereja atau fasilitas umum yang direnovasi. Pekerja di Tai Tarian maupun kontraktor mitra bisa ikut bekerja di proyek sosial itu sebagai volunteer dengan status cuti tanpa dipotong gaji. Cuti untuk bantu kerja sosial perusahaan tapi tetap dibayar oleh perusahaan.

Ketiga, ada proses ‘daur ulang’ dari keuntungan dalam bisnis ini, rumah pribadi atau komunitas mendapat dampak. Misalnya menyewa rumah yang memakai panel surya secara otomatis mengurangi biaya operasional, kelebihannya dipakai untuk memberikan pelatihan dan ketrampilan tertentu kepada para penyewa.

Dicky Senda
Dicky Senda (ISTIMEWA)

Di sini, di kota asal Michael Sheen, saya belajar bahkan perusahaan properti pun tidak rugi sama sekali ketika menjalankan prinsip SE. Mereka tetap untung, tetap bisa hidup terus tetapi tetap bisa menolong banyak orang.

Memberi kesempatan orang untuk maju, tidak perlu jauh-jauh, kesempatan untuk bekerja di perusahaan properti dan mitranya.

***

Di Bristol kami bertemu beberapa tokoh yang mengajak kami untuk memikirkan soal investasi dan proses mencari funding/donor. Penting untuk mempelajari dan menghubungkan benang merah antara apa yang kamu butuhkan dengan apa yang diinginkan lembaga donor.

Di posisi ini, nilai, misi, visi, brand dan komunikasi dari keseluruhan proyek SE kita harus diperhatikan. Karena semua itu yang mendorong orang lain yakin dan mau mendukung kita.

Rencana bisnis juga menjadi tidak kalah penting. Aset dan properti bisa menjadi acuan dari gerakan awal kita. Di Bristol, pemerintah kota sangat membantu komunitas SE dalam mengurus aset dan properti mereka demi keamanan dan kelancaran bisnis ke depan.

Aktivitas peserta Drivers for Change di Inggris
Aktivitas peserta Drivers for Change di Inggris (FOTO DICKY SENDA)

Misalnya ketika kita ingin mengajukan peminjaman ke bank, maka rencana bisnis dan aset jadi penting untuk diperhatikan. Jaringan dan relasi yang luas juga menjadi modal penting bagi sebuah komunitas atau proyek SE dalam mencari dukungan finansial atau modal awal.

Di Bristol saya mengerti, bahwa ketika sebuah SE sudah menjalankan prinsip dan rodanya secara sehat, dan ketika ia masuk dan berjejaring dalam ekosistem yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah dan lembaga donor maka dengan sendirinya semua SE yang terkait akan memberikan dampak dan iklim yang positif satu sama lain.

Apa yang disebut Ollie, sang narasumber sebagai investasi yang nyata meski tidak kelihatan. Lingkungan yang sehat perlu dibangun. Ujung-ujungnya kita bisa melihat bahwa keberlanjutan terjadi karena adanya saling mendukung dan berada di lingkungan yang sehat tadi.

***

Ini hari yang paling emosional menurut saya. Perjalanan 11 hari ke 8 kota seperti sebuah perjalanan spiritual yang aneh tapi menggembirakan. Kami bahkan memulai dengan sesi yang sangat santai ini dengan minum banyak kopi dan jus jeruk sembari mengobrol dan mempersiapkan acara spesial ‘Showcase: Provoke’.

Tema provoke dipilih dan menjadi semacam acara inisiatif dadakan yang menampilkan kesenian dari seluruh peserta.

Kami yang berasal dari 5 negara yang dikirim British Council sepakat untuk membuat acara khusus, sebuah kolaborasi tari dari Indonesia, Brasil, Afsel, Mesir dan Pakistan. Seru juga melihat tari ‘Tsamina-Wakawaka’ dari Afsel menyatu dengan capoera plus semacam dansa tombak ala Brasil dengan Gemu Famire baru atau goyang ala Pakistan dan Mesir.

Kami melakukannya dengan sangat baik. Provoke ditutup dengan penampilan DJ Ben, peserta DfC asal Skotlandia.

Sebelum menari dan dansa-dansi, kami melewati salah satu sesi bersama Red Bull tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi pitching dan presentasi idea tau proyek SE kita ke depan publik.

Bagaimana narasi itu menjadi penting dan bisa menghipnotis banyak orang dengan pendekatan storytelling. Bagaimana semua film Pixar bisa selalu menarik meski sebenarnya teknik berceritanya sama semua.

Aktivitas para peserta Drivers for Change di Inggris
Aktivitas para peserta Drivers for Change di Inggris (FOTO DICKY SENDA)

Formulanya selalu sama: di sebuah tempat ada masalah, lalu datang seorang yang ingin mengatasi masalah itu, ada tantangan tapi dengan cara tertentu ia berhasil menyelesaikannya. Itu yang dipakai oleh teman-teman Red Bull sebagai pintu masuk dalam sesi ini.

Penting untuk mengenali siapa pendengar kita. Ketika kita ingin presentasi ke pemerintah atau ke donatur, atau ingin menjual ide dari proyek SE kita ke sebuah pasar ide, penting untuk mengetahui pihak yang menjadi target kita. “Apa yang ingin kamu mau orang lain rasakan ke dalam ceritamu?”

Mulailah ceritamu dengan ‘why’, mengapa kamu mau bikin proyek ini, mengapa proyek ini harus ada.
Balik lagi ke sesi emosional. Jude Kelly membawakan sesi penutupan yang bikin banyak orang menangis, terpaku, terdiam. Drivers for Change lebih dari sekadar perjalanan untuk belajar SE. Ia sekaligus menjadi ruang untuk mawas diri bagi setiap peserta.

Sebuah proyek SE akan sia-sia tanpa pribadi yang mawas diri, kenal dengan setiap proses perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ia haruslah seorang yang kuat dan peka. Jude melatih kami untuk peka pada diri sendiri lalu peka pada orang lain dan situasi di sekitar.

Karena sekali lagi, SE bukan seperti bisnis murni yang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, atau CSR dan charity act yang membagi-bagi uang begitu saja.

Ada banyak nilai dan prinsip yang harus dijalankan secara etis dan dipertanggungjawabkan demi sebuah bisnis yang bisa hidup lebih lama dan bisa memberi kesempatan kepada lebih banyak orang untuk berkembang. Jelas bukan pekerjaan yang mudah. Terima kasih Drivers for Change, terima kasih British Council.

Saya pun bangga, sebagai anak Mollo, anak Timor akhirnya dapat kesempatan 2 menit berbicara di House of Lords, gedung parlemen Inggris di depan beberapa anggota parlemen, para aktivis kewirausahaan sosial dan seniman. Bangga dan senang rasanya, sebab ini mungkin yang pertama dan terakhir kali.

Saya belajar banyak dari perjalanan ini dan ingin segera kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kewirausahaan sosial yang sudah saya rintis sejak tahun 2016, Lakoat.Kujawas.

Dari Drivers for Change, ada beberapa teman yang berniat berkolaborasi dengan Lakoat.Kujawas, misalnya Boriana seorang mahasiswi film dan Giang Anh keturunan Vietman yang juga tertarik menjadi volunteer.

Saya bilang ke mereka bahwa komunitas kami sudah membuka kesempatan residensi bernama Apinat-Aklahat kepada seniman, mahasiswa, peneliti atau siapapun yang mau bikin project kreatif bersama warga desa Taiftob di Mollo. Yang pasti kami sedang bersemangat melakukan riset dan persiapan Sandalwood Heritage Trail dibantu teman-teman dari Universitas Indonesia dan Kesengsem Lasem.*

Dicky Senda adalah penulis, pegiat makanan dan pendiri kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas. Pernah menjadi guru di Jogja dan Kupang, lalu memutuskan pulang kampung dan memulai bisnis sosial yang terintegrasi dengan perpustakaan warga dan komunitas kesenian.

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved