Kamis, 11 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (5)

Kami belajar tentang SE pagi itu justru bukan dari keasyikan melihat kastil dan bangunan tua atau taman kota yang indah di bawah langit biru

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO DICKY SENDA
Aktivitas peserta Drivers for Change di Inggris 

Makan Malam Bersama Aktor Michael Sheen

Oleh Dicky Senda

POS-KUPANG.COM - Kami memulainya dengan tur keliling kota Edinburgh, kota tua yang cantik namun juga punya persoalan homeless yang serius. Tapi menariknya kami diajak bertemu dengan jaringan komunitas SE di Grassmarkets yang bekerja bersama untuk menjawab persoalan kaum tunawisma, termasuk Invisible (Edinbrugh) yang menjadi tour operator kami pagi itu.

Kami belajar tentang SE pagi itu justru bukan dari keasyikan melihat kastil dan bangunan tua atau taman kota yang indah di bawah langit biru musim panas. Kami belajar SE justru dari Paul sang pemandu wisata yang baru 6 bulan bergabung dengan Invisible Edinburgh dan beliau adalah seorang mantan homeless!

Dari semangat bertutur Paul dan cara pandang terhadap kotanya, saya menemukan sisi lain membangun proyek SE yang lebih humanis. Kami diajak menyusuri sudut kota dengan pemandangan muram kaum tunawisma sekaligus pemandangan indah yang membuat Paul yakin pada masa depannya. Kok bisa semudah itu? Di tengah perjalanan kami di bawah ke beberapa titik tempat perubahan dan harapan untuk orang-orang seperti Paul berasal.

Saya melihat di Edinburgh, mengerjakan proyek SE dengan visi misi yang kuat tidak bisa sendiri. Mereka memanfaatkan betul jaringan dan ekosistem yang terbangun. Ibaratnya bukan ikan yang diberikan, tapi juga kail.

Di Grassmarket, kaum tunawisma tidak saja diberi makan secara regular di beberapa restoran yang berjejaring dengan mereka, tapi kesempatan-kesempatan lebih tinggi diberikan melalui berbagai jenis pelatihan hingga penempatan kerja.

Aktivitas para peserta Drivers for Change di Inggris
Aktivitas para peserta Drivers for Change di Inggris (FOTO DICKY SENDA)

Misalnya para tunawisma dilatih menjadi pemandu wisata, lagi-lagi revenue dari usaha ini diinvestasikan untuk meningkatkan lebih banyak ketrampilan dan lapangan pekerjaan bagi para tunawisma.

Di Grassmarket ini tidak saja ada Invisible (Edinburgh), tapi ada banyak lagi usaha sosial yang memakai dan melipatgandakan penghasilan mereka untuk investasi yang lebih besar, memberikan kesmepatan kepada lebih banyak orang untuk maju.

“Saya punya anak laki-laki remaja, saya harus lepas dari masalah ini jika tidak anak saya akan meniru apa yang saya lakukan (sebagai homeless),” terang Paul. Paul mengajarkan banyak hal kepada kami hari itu.

Saat sesi bersama Gordon Brown (yang tidak saya ketahui sebelumnya, beliau itu siapa), menjadi sangat sulit sebab topiknya agak berat, membicarakan ekonomi global. Brown memulainya dengan perubahan peta ekonomi dunia yang sudah bergeser ke timur (Asia) sebagai pemain utama dan bagaimana barat atau UK melihat fenomena ini. Bukan ke soal politik ekonomi tapi lebih ke ekonomi yang merata bagi semua kalangan.

Saya tertarik dengan beberapa nasihat beliau untuk kami: untuk menjadi bijaksana tidak bisa langsung jadi, ia berproses lewat pengalaman yang panjang. Penting untuk bekerja dalam tim dan ‘clear what you want to do’. Sebagai orang muda tujuan hidupmu apa dan bagaimana cara mewujudkannya, harus jelas dulu.

Masih di Edinburgh, kami berkunjung ke PwC (PricewaterhouseCoopers) sebuah lembaga jasa profesional dan perpajakan yang menjadi salah satu sponsor kegiatan Drivers for Change selain British Council.

Di PwC kami mendengar pemaparan Jane Portas, seorang penulis dan konsultas jasa terkait posisi perempuan di UK ketika kita bicara ekonomi, asuransi atau finansial. Meski tidak kasat mata, ternyata masih ada banyak sekali gap terkait antara laki-laki dan perempuan di UK.

Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia (ISTIMEWA)

Misalnya, meski suami dan istri sama-sama bekerja namun pengeluaran untuk kebutuhan saat mengisi waktu luang atau santai di rumah lebih banyak dikeluarkan oleh perempuan, berhubungan juga dengan tabungan istri yang lebih kecil bergitu juga waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk mengurus rumah tangga.

Jumlah uang pensiun pun ternyata lebih kecil dan perempuan yang bercerai sebanyak 46% tidak memiliki properti. Menariknya angka harapan hidup perempuan UK adalah 83 tahun, sementara laki-laki 79 tahun. Apapun itu, dari Jane saya belajar, proses membangun sebuah proyek SE juga harus melalui proses riset juga. Masalah sosial yang ingin kita jawab harus diketahui (melalui riset) dengan mumpuni.

Saatnya menuju Sunderland!

Di Sundeland ketika saya bertemu Kate Welch yang memperkenalkan kondisi SE di kotanya, tantangan dan cara mengatasinya, dimulai dari hal sederhana dengan pendekatan Hedgehog model.

Di pendekatan ini, kita sebenarnya dibentuk dari tiga irisan besar: apa yang paling kamu cintai dan menjadi passion-mu? Apa yang bisa mendatangkan uang bagimu? Apa yang paling bisa kamu lakukan atau kemampuan terbaikmu di dunia ini?

Kalau kamu punya passion dan ingin punya uang dari passion-mu itu tanpa punya ketrampilan, itu sama dengan mimpi. Kalau kamu punya ketrampilan dan mendapat uang darinya, tapi kamu tidak punya passion, kamu hanya sebatas bekerja. Atau punya passion dan ketrampilan tapi tidak mendatangkan uang, itu namanya hobi. Karakter seorang aktivis SE adalah gabungan ketiganya.

Kate mewakili Acumen CIC sebuah lembaga telah mendukung lebih dari 2 ribu masyarakat lokal untuk mendapat pekerjaan di area East Durham, lewat berbagai pelatihan dan kursus yang terakreditasi. Fokus mereka memang terkait isu lapangan pekerjaan.

Salah satu proyek yang menarik perhatian saya adalah bagaimana kolaborasi berbagai komunitas SE di Sunderland dalam menentukan arah kota ini menuju masa depan.

Sebagai kota lama yang banyak ditinggalkan penduduknya karena alasan lapangan pekerjaan, mereka merasa perlu untuk membuat perencanaan baru dengan memanfaatkan ekosistem SE yang sudah bagus dan mencoba untuk berkembang dengan dana/investasi bergulir dari setiap komunitas SE.

Inggris Dicky2
(FOTO DICKY SENDA)

Ini sangat menarik. Memang belum terlihat maksimal tapi dari beberapa titik kecil di sudut kota sudah mulai terlihat progresnya. Misalnya di Peacock dan Firestation Restaurant yang kami kunjungi dan menjadi semacam pusat seni dan ekonomi kota yang potensial untuk menggerakan komunitas lain.

Firestation menginvestasikan gedung lama bersejarah untuk sebuah tempat makan sekaligus pusat seni.
Ada berbagai ruang pelatihan dan pementasan di lantai atas bangunan tersebut. Kami menemui anak-anak berlatih balet dan yoga di sana. Keuntungan dari semua itu? Sedang dalam proses pembangunan ruang seni warga yang lebih luas di samping Firestation.

Ada satu program komunitas yang menarik perhatian saya di Sunderland, yang bertumbuh, dibiayai dan membiayai aktivitas mereka dari kewirausahaan sosial, namanya North East Dance, ruang dengan 10 program unik di mana anak hingga orang tua mengaktualisasikan diri mereka lewat tari.

Tapi visi dan program mereka menarik dan tentu saja bukan sekadar menari saja. Salah satu programnya adalah Move and Groove, khusus untuk para manula yang semakin tua semakin punya keterbatasan dalam mobilitas. Atau Jive Alive, kelas tari dengan pendekatan psikoterapi atau terapi holistik.

Ketimbang diet ketat atau mengkonsumsi obat, menari bisa jadi satu bentuk investasi untuk kesehatan fisik maupun kesejahteraan jiwa (wellbeing) mereka. Dikenakan tarif dan prosedurnya sama, keuntungannya dinvestasikan lebih lanjut untuk berbagai proyek kewirausahaan sosial di Sunderland dalam visi membangun kembali kota mereka yang punya lapangan pekerjaan yang cukup bagi semua warga.

“Investasi SE yang kami lakukan membantu pemerintah meminimalisir penggunaan anggaran untuk kesehatan mental dan fisik warga, tapi secara bersamaan semua ikut membangun kota ini dan ikut menciptakan berbagai jenis lapangan pekerjaan untuk semua warga,” ungkap Kate.

Kami menyelesaikan hari itu di kota yang sangat amat sepi ketika kabut tebal sudah turun menutupi bar Peacock dan gedung-gedung tua di sekitar pusat kota. Kabut dan dingin, teringat Mollo di Timor. Kami menuju ke penginapan milik kampus University of Sunderland. Besoknya harus ke Birmingham.

Kami tiba di Birmingham dan langsung menuju Impact Hub Birmingham sebuah ruang kerja kolaborasi yang mempertemukan banyak orang muda kreatif di Birmingham. Ini sesi yang sebenarnya paling kurang menarik sejauh perjalanan Drivers for Change.

Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk sesi lokakarya dan saya kebagian di sesi yang bicara tentang bagaimana menggunakan cara-cara kreatif untuk menarik perhatian dan keterlibatan banyak orang dalam aksi sosial kita. Daniel sang fasilitator menggunakan pengalaman dia di bidang teknologi khususnya desain, video dan film.

Namun di sesi berikutnya sangat menarik, bukan saja karena bintang tamunya selebriti yang banyak membintangi film terkenal (salah satunya Twilight) melainkan pengalaman dan cara pandang ia memulai aksi sosialnya yang bagi saya menarik. Sesuatu yang terlihat kontras dengan dirinya yang selebriti dan punya banyak hal yang bisa diurusi atau dinikmati.

Mikhael Sheen adalah aktor besar yang mau pulang kampung dan berbuat sesuatu untuk kampung halamannya. Refleksinya adalah perjalanan hidupnya yang sulit dan penting untuk membuka kesempatan kepada generasi muda Port Talbot lewat penciptaan ruang-ruang seni yang cukup progresif. Seni sangat memungkinkan untuk mengubah sebuah lingkungan masyarakat, imbuhnya.

Sheen mengkritik bagaimana kredit mencekik rakyat miskin, karena orang miskin yang kesulitan finansial akan membayar lebih banyak. Ini bukan soal malas atau bodoh, tapi orang miskin tidak mendapat banyak akses dan kesempatan. Ini yang mendorong ia rela membagi waktu antara aktor dan aktivis. Kuncinya, komitmen sebab baginya kedua hal tersebut penting.

Profesinya sebagai orang terkenal membantunya menyuarakan berbagai isu sosial yang ia kerjakan dan membantu untuk menarik lebih banyak perhatian publik khususnya pemerintah. Kunci kedua adalah waktu, harus selektif membagi waktu antara syuting dan bekerja sebagai aktivis. “Life is hard, so we must help each other.”

Kami mengakhiri sesi hari ini dengan makan malam di kampus Universitas Bimingham yang punya menara jam yang tinggi dan masih aktif berbunyi setiap jam. Terlalu banyak roti lapis mala mini, roti lapis yang rasanya hambar.

Saya mengeluarkan sambal lu’at produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas di Mollo untuk membunuh rasa hambar itu. Teman-teman asal Brasil seperti biasa mulai berkerumun dan menonton pertadingan piala dunia melalui telepon selular. Malam ini kami menginap di Wolverhampton University yang di setiap toilet umumnya ada mesin penjual kondom. *

* Dicky Senda adalah penulis 3 buku cerpen, pegiat makanan dan sejak dua tahun terakhir bergiat di sebuah komunitas warga bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lakoat.Kujawas merupakan komunitas yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang berkesenian, toko online produk khas Mollo, homestay dan ruang arsip.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved