Berita Kesehatan
Kurang Kena Cahaya Dan 6 Hal Ini Bisa Bikin Kamu Sakit Kepala, Kenapa Bisa?
Kurang kena cahaya dan 6 hal ini ternyata bisa bikin kamu sakit kepala, kenapa bisa?
Studi Beth Israel Medical Center mengidentifikasi hubungan baru antara neuron di mata dan neuron di otak yang mengendalikan suasana hati kita dalam parameter fisik seperti detak jantung, sesak napas, kelelahan, dan mual.
Selain fakta bahwa cahaya terang bisa menjadi penyebab sakit kepala, itu membuat pasien menderita gangguan, marah, cemas, dan putus asa.
Peserta penelitian juga menyebutkan bahwa mereka mengalami ketidaknyamanan konstan, mual, dan sesak napas.
3. Petir
Para ilmuwan dari University of Cincinnati menggunakan model matematika untuk menentukan apakah petir itu sendiri.
Penyebab meningkatnya frekuensi sakit kepala atau apakah itu bisa dikaitkan dengan faktor cuaca lainnya.

Hasilnya menunjukkan peningkatan 19% risiko sakit kepala pada hari-hari petang, bahkan setelah memperhitungkan faktor cuaca.
Ini menunjukkan bahwa petir memiliki efek unik pada orang-orang dan kerentanan mereka terhadap sakit kepala.
Geoffrey Martin menunjukkan bahwa mekanisme yang tepat di mana petir dan faktor-faktor meteorologi seperti kelembaban dan tekanan udara memicu sakit kepala tidak diketahui.
Baca: Capricorn dan 3 Zodiak Ini Sangat Menjunjung Tinggi Kejujuran
Baca: 6 Juli 2018, Lihat Ramalan Zodiakmu Hari Ini, Siapa yang Beruntung dan Bahagia?
4. Depresi dan Cemas
588 pasien mengalami sakit kepala mengambil bagian dalam penelitian yang dilakukan di National Defense Medical Center di Taiwan.

Dalam kebanyakan kasus; kecemasan, depresi, dan tidur yang tidak sehat adalah alasan utama menyebakan sakit kepala.
Tampaknya, faktor-faktor seperti tekanan emosi dan frekuensi sakit kepala dapat mempengaruhi satu sama lain melalui mekanisme patofisiologi umum.
Misalnya, respons emosional memiliki potensi untuk mengubah persepsi nyeri dan modulasi melalui jalur pemberian sinyal tertentu.
Fu-Chi Yang, penulis penelitian ini, mencatat bahwa hasil berpotensi menunjukkan bahwa perawatan medis yang memadai untuk mengurangi frekuensi sakit kepala dapat mengurangi risiko depresi dan kecemasan pada pasien migrain.