Kegigihan Ipda Kukuh Kembalikan Kejayaan Batik Indigo Borobudur

Menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tidak membatasi kreativitas seorang Ipda Kukuh Tirto Satrio Leksono untuk berkarya

Kegigihan Ipda Kukuh Kembalikan Kejayaan Batik Indigo Borobudur
KOMPAS.COM
Ipda Kukuh (kiri) dan pelanggannya untuk batim indigo Borobudur. 

POS-KUPANG.COM | MAGELANG - Menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tidak membatasi kreativitas seorang Ipda Kukuh Tirto Satrio Leksono untuk berkarya di bidang seni dan ekonomi kreatif.

Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Magelang, Jawa Tengah, itu mampu mengembangkan seni batik dengan warna alami dari daun indigo yang nyaris punah di kawasan Candi Borobudur.

Baca: Kim Jong Un Bujuk Presiden China Bantu Cabut Sanksi terhadap Korut

Tidak ada darah seni yang mengalir pada diri pria berusia 35 tahun itu. Semua berawal dari keprihatinan bahwa seni batik indigo sudah sulit bahkan tidak dapat ditemui di Candi Borobudur.

"Ada rasa enggak rela ketika tahu kalau batik indigo sudah punah, padahal dahulu mudah ditemui. Indigo dengan Candi Borobudur memiliki ikatan sejarah," ungkap Kukuh, mengawali berbincangan dengan Kompas.com di kantornya, di Polres Magelang, Minggu (1/7/2018).

Informasi tentang batik warna daun indigo diketahui ketika ia mulai menggeluti dunia seni di Candi Borobudur. Barawal dari ketika bergabung dengan komunitas mobil, membangun homestay di Borobudur, lalu ikut komunitas seni rupa, teater, sampai sinematografi.

"Mulai intens di Borobudur tahun 2011-2012, sampai pada tahun 2015, saya mulai suka batik ketika mengantar tamu homestay keliling Borobudur, dari situ saya memperoleh pengetahuan bahwa warna daun indigo sudah punah," ungkap pria asal Kabupaten Kebumen itu.

Kukuh kemudian mencari tahu dan bereksperimen dengan warna daun indigo yang diambil dari seorang petani di Kabupaten Temanggung.

Daun indigo berasal dari pohon indigo yang mirip dengan pohon kelor namun daunnya lebih kecil. Prosesnya cukup lama untuk menjadi pewarna batik, mulai dari fermentasi, direndam di larutan air biasa, dicampur dengan air kapur, sampai dicampur dengan air gula atau tape.

"Saya 3 kali gagal bereksperimen, sampai akhirnya menghasilkan warna indigo yang khas yakni biru cerah, warna ini dianggap ningrat sebelum ada warna sintetis. Warna akan lebih cerah kalau pohonnya ditanam di aliran sungai kapur atau marmer," papar dia.

Kukuh mulai memberdayakan orang-orang disekitarnya untuk memproduksi batik indigo. Kreativitasnya membuahkan hasil setelah banyak kalangan yang menyukai batik karyanya.

Ia juga memprodukasi batik dengan pewarna alam lain seperti mahoni, jambal, daun mangga, bunga sumbo, yang banyak tumbuh di kawasan taman wisata Candi Borobudur.

Kukuh mengungkapkan, dirinya memproduksi batik dua jenis, yakni batik Tingal Laras yang diprosuksi dengan edisi terbatas.

Batik ini lebih kepada media untuk menuangkan ide atau ekspresinya, biasanya dipakai untuk fine art atau dekorasi.

Selain itu, pihaknya juga membuat batik Samaratungga yang biasa dipakai untuk cinderamata tamu, karena motifnya relief Borobudur, ada unsur pohon kalpataru, pohon yang hampir ada di setiap relief candi di Indonesia.

"Pohon Kalpataru adalah simbol ikatan emosional antar masyarakat di Jawa. Pohon ini menyimpan debit air banyak. Secara filosofi, mampu beri kehidupan lingkungan sekitar. Urip kudu urup," ungkap dia. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved