Gara-gara Manusia, Otak Kelinci Menyusut dan Berubah Bentuk. Kok Bisa?

Walaupun telah lama menjadi makanan manusia, kelinci baru menjadi hewan peliharaan pada abad ke-19.

Gara-gara Manusia, Otak Kelinci Menyusut dan Berubah Bentuk. Kok Bisa?
KOMPAS.COM
Ilustrasi 

POS-KUPANG.COM - Walaupun telah lama menjadi makanan manusia, kelinci baru menjadi hewan peliharaan pada abad ke-19. Namun dalam waktu yang relatif singkat ini, campur tangan manusia telah mengubah otak kelinci.

Charles Darwin bahkan pernah menulis bahwa tidak ada hewan yang lebih sulit dijinakkan daripada kelinci liar muda. Sebaliknya, tidak ada hewan yang lebih jinak dari kelinci peliharaan muda.

Baca: Diduga Manipulasi Data Pilkada, Ketua KPU Makassar Diperiksa 3 Jam

Untuk mencari tahu apa yang menyebabkan perbedaan ini, para peneliti mempelajari otak dari delapan kelinci liar dan delapan kelinci peliharaan yang tumbuh di lingkungan yang sama.

Dr Miguel Carneiro dari University of Porto, Portugal yang memimpin studi mengatakan, dalam studi sebelumnya, kita melaporkan adanya perbedaan genetis antara kelinci liar dan domestik, terutama area gen yang diekspresikan ketika otak berkembang.

"Kini, kami memutuskan untuk menggunakan MRS resolusi tinggi untuk melihat apakah perubahan genetik ini juga menyebabkan perubahan pada morfologi otak (kelinci)," ujarnya, seperti dilansir dari The Independent, Rabu (27/6/2018).

Dipublikasikan dalam jurnal PNAS, para peneliti menemukan sesuatu yang menarik. Kelinci domestik tidak sekadar memiliki otak yang lebih kecil dari kelinci liar, tetapi ada bagian yang menyusut dan ada yang membesar.

Amygdala atau bagian otak yang berfungsi untuk rasa takut, misalnya, mengecil pada otak kelinci domestik. Sementara itu, korteks prefrontal medial yang mengontrol response terhadap rasa takut membesar.

Kelinci peliharaan juga ditemukan memiliki lebih sedikit materi putih yang berguna untuk memproses informasi daripada kelinci liar. Ini menunjukkan bahwa berkurangnya rasa takut kelinci peliharaan terhadap manusia memang berasal dari otak.

Para peneliti sendiri tidak terkejut dengan hasil ini. Mereka berkata bahwa sepanjang sejarah manusia, kita memang mendorong evolusi pada hewan peliharaan dengan memilih individu-individu yang tidak agresif dan jinak.

Penelitian ini juga menjadi penelitian pertama yang secara komprehensif menghubungkan domestikasi dengan perubahan genetik yang mempengaruhi bentuk otak. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved