Kamis, 11 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (3)

Sejak bertemu sehari sebelumnya, saya membayangkan ada kesan bahwa perjalanan dalam Drivers for Change ini adalah

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Dicky Senda bersama teman-temannya 

Oleh: Dicky Senda

POS-KUPANG.COM -- Jude Kelly adalah sutradara dibalik aksi 100 orang muda dari Inggris dan 5 negara berkembang mengelilingi 8 kota di Inggris selama 8 hari menggunakan bus. Drivers for Change!

Perjalanan yang dibayangkan akan berisi banyak pengalaman kreatif dan spiritual ini terinspirasi dari perjalanan sejenis yang dilakukan ratusan orang muda dari berbagai penjuru dunia menggunakan kereta di India selama 15 hari. Namanya Jagriti Yatra.

Baik Drivers for Change maupun Jagriti Yatra sama-sama berfokus pada orang muda dan pengalaman menuju inovasi kewirausahaan sosial. Perjalanan yang akan berisi banyak diskusi, lokakarya, saling tukar ide dan pengalaman hingga belajar langsung dari para pakar atau aktivis kewirausahaan sosial. Saya beruntung bisa berada dalam perjalanan ini.

Saya bahkan lebih beruntung berada dalam tim yang didampingi Jude dalam agenda tur keliling kota Liverpool menggunakan bus di musim panas yang menyenangkan, Jumat 22 Juni 2018.

Sejak bertemu sehari sebelumnya, saya membayangkan ada kesan bahwa perjalanan dalam Drivers for Change ini adalah juga sebuah perjalanan spiritual. Perempuan mungil ini punya kharisma tersendiri yang kuat.

Inggris Dicky
Inggris Dicky (FOTO DICKY SENDA)

Ia selalu menekankan bahwa perubahan sosial hanya bisa terjadi ketika kita sebagai pelaku, aktivis, pribadi yang mau terlibat dalam sebuah aksi sosial sudah `selesai' dengan diri kita sendiri. "Kamu harus percaya diri dulu sebelum menolong orang lain."

Kalimat itu selalu menyihir saya. Ia membahasakan itu berulang-ulang dengan cara dan konteks yang berbeda. Sementara Richard, co-founder Drivers for Change melengkapinya dengan ungkapan bahwa perubahan dimulai dari pikiran orang-orang yang percaya pada dirinya dan diwujudkan bersama orang lain.

Bekerja bersama artinya kita harus bicara kesetaraan dalam kesempatan. Semua orang harus punya kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Saya kira ini prinsip penting bagi siapapun yang mau memulai sebuah kewirausahaan sosial.
Sebelum bicara tentang diri sendiri, Jude Kelly dalam tur pagi itu menjelaskan tentang sejarah panjang kota Liverpool.

Bagaimana kota pelabuhan di muara sungai Mersey, bagian barat laut Inggris ini dibangun, mengalami dinamika sosialnya dari tahun ke tahun dan berakhir di Liverpool hari ini: kota seni budaya yang pertumbuhan ekonomi kreatif dan kewirausahaan sosialnya signifikan.

Kota ini pertama kali dibangun tahun 1207 oleh King John dengan nama pertama `Liuerpul' dan memperoleh status kota pada tahun 1880. Setelah Perang Dunia kedua perekonomian mereka jatuh. Belum lagi ada masalah rasisme dan sentimen agama serius, yang membuat warga terpisah.

Sebagian sulit mendapat pekerjaan karena status ras dan agamanya. Mereka juga punya sejarah kelam sebagai kota yang menjual budak. Kemudian Liverpool kembali mengudara ketika The Beatles muncul dan seni budaya mendapat tempat yang lebih luas. Seni budaya yang akhirnya mulai menggerus batasan ras dan sentimen agama.

"Dulu, orang yang punya uang akan pergi meninggalkan Liverpool, hidup di London dan kota lainnya," ujar perempuan berusia 64 tahun ini.

Jude Kelly adalah pengarah teater sekaligus pernah menjadi art director di Southbank Centre sebuah pusat seni terbesar di Inggris selama 12 tahun. Banyak sekali festival seni di Inggris Raya bahkan dunia yang pernah ditangani oleh Kelly.

Sejak tahun 2010 ia lebih berkonsentrasi pada Women of the World (WOW) sebuah festival seni berjejaring di 23 negara di enam benua. "Jude adalah seorang pemimpin seni yang sangat dikagumi, dikenal karena pemikirannya yang besar dan ambisius," tulis the Guardian.

Tapi dua hari ini saya juga melihat Kelly yang kalem, keibuan dan sangat mendukung orang muda. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah pesan-pesan berbau spiritualis, yang mendorong siapa saja untuk melihat ke dalam diri dan ke lingkungan sekitar. Ia tipikal orang yang punya kekuatan juga charisma untuk mengajak banyak orang maju bersama untuk sebuah perubahan.

Inggris Dicky2
Inggris Dicky2 (FOTO DICKY SENDA)

"Ide perubahan yang kita lakukan mungkin akan mengalami penolakan dari lingkungan sekitar. Tapi penting untuk memulai perubahan itu dari bagaimana kita sebagai aktivis tahu betul sejarah tempat kita tinggal, tempat kita hendak melakukan perubahan," jelas perempuan yang lahir dan besar di Liverpool.

Perubahan sejarah budaya yang terjadi, kecintaanya dan pengetahuannya yang besar pada kota kelahirannya bukan saja mendorong Jude melakukan banyak hal besar di kotanya, ia juga tahu dari mana ia harus memulainya.

"Tapi ingat, ada ribuan potensi di dalam diri kita tapi kadang kita takut untuk memulai, sehingga banyak kesempatan nyata yang datang kemudian pergi begitu saja. Dan satu lagi, jangan sekali merendahkan kemampuan orang lain," ujarnya.

Jude berkali-kali menarik benang merah antara sejarah dan sosial budaya yang terjadi direfleksikan dengan perubahan dalam diri dan usaha untuk memulai perubahan bersama orang lain ke arah lebih baik.

Selain Jude, ada Ken sang tur guide senior di kota Liverpool juga Ben dan Kurtis dua peserta Drivers for Change asal Liverpool yang ada di dalam bus. Menarik sekali melihat kota tempat lahir dari kacamata para orang tua, Kelly dan Ken, juga dari kacamata orang mudanya yang diwakili Kurtis dan Ben.

Ken bahkan dengan nada bercanda bilang betapa ia begitu mencintai Liverpool dan bagaimana kota ini dibangun kembali pasca perang dunia kedua menggunakan `European Money' sehingga tentu saja ia menolak ide Brexit. "No Brexit! Eropa telah mengembalikan wajah dan masa depan Liverpool."

Sementara Ben yang punya darah Afrika dan Skotlandia atau Kurtis yang keluarganya perpaduan Katolik Irlandia dan Protestan juga punya hambatan tersendiri dalam bidang sosial.

Mereka sebagai orang muda sepakat untuk meninggalkan segala sentimen yang memecah belah dan lebih memilih untuk melihat Liverpool ke depan yang lebih positif dan semua orang siapapun dia punya kesempatan yang sama untuk maju.

Dari pusat kota tua di pinggir sungai kami menuju ke ketinggian melewati markas klub bola Everton dan beberapa akademi sepak bola, menuju ke salah satu situs Kekristenan tertua Saint George Church.

Ken membawa kami ke pojok belakang tempat pekuburan dan sebuah bangunan tua yang disebut sebagai sekolah pertama untuk anak laki-laki Liverpool di tahun 1515.
Di titik ini saya melihat bagaimana warga Liverpool membangun kotanya dengan tidak melupakan sama sekali setiap sejarah yang pernah terjadi. Sejarah, budaya dan seni pada akhirnya yang mendorong mereka bangkit dan kini menjadi salah satu kota yang ekonomi kreatif dan kewirausahaan sosialnya bertumbuh pesat.

Bagaimana dengan di Mollo, di Timor, di Indonesia? Bangunan-bangunan tua digusur dan diganti bangunan baru. Kita akan terus mengulangi banyak kesalahan dan akan terus berjalan di tempat, saya kira. Sebab tahun bertambah dan kita terus kehilangan identitas.

Setelah menyelesaikan tur keliling kota kami kembali ke Blackburne House untuk melanjutkan sesi Community Mapping. Drivers for Change tidak saja berisi agenda jalan-jalan keliling 8 kota dan bertemu para praktisi dan aktivis kewirausahaan sosial.

Kami juga terlibat dalam lokakarya `langkah demi langkah membangun proyek kewirausahaan sosial'. Prosesnya terjadi di setiap kota, di sela agenda kunjungan ke komunitas lokal.

Pemetaan yang kami buat ternyata bukan saja untuk melihat potensi di lingkungan kita atau sekadar memahami konteks geografis tapi lebih dari itu, lewat pemetaan kita sebenarnya bisa memikirkan untuk membangun koneksi antar titik, membangun dialog, sekaligus memecah batasan-batasan.

Pemetaan juga bisa sekaligus membangun kesetaraan dan keadilan berpikir. Kewirausahaan sosial mengajarkan prinsip bekerja bersama komunitas (people), memperoleh keuntungan yang dipakai untuk mendorong perubahan ekonomi komunitas lain (profit) sekaligus menciptakan kondisi lingkungan yang berkelanjutan untuk generasi berikutnya (planet).

Setelah sesi pemetaan, kami terbagi dalam empat kelompok besar dan mengunjungi empat kewirausahaan sosial besar di Liverpool. Saya dapat di Blackburne House jadi tidak harus pergi lagi.

Blackburne House adalah sebuah organisasi yang lahir tahun 1983 yang fokusnya adalah mendukung perempuan Liverpool yang tidak punya akses dan kesempatan dalam pendidikan yang membuat mereka sulit mendapat pekerjaan.

Dicky Inggris
Dicky Inggris (FOTO DICKY SENDA)

Mereka punya beberapa produk yang dijual bistro, spa, tempat penitipan anak, kelas-kelas untuk pengembangan diri perempuan Liverpool, ruang pertemuan yang bisa disewakan kepada publik dan keuntungan dari semua usaha itu yang dipakai untuk membangun komunitas lokal dan perekonomian yang berkelanjutan.

Efeknya, kaum perempuan Liverpool mendapat akses pengetahuan dan ketrampilan sehingga memudahkan mereka mencari pekerjaan.

Di Blackburne House kami tidak diceritakan lebih banyak tentang model kewirausahaanya, namun Ana sebagai perwakilan memberikan sebuah pelatihan singkat bagaimana kami membangun visi, nilai dan gol dari diri kita dulu sebelum nantinya bergerak ke visi hingga gol komunitas.

Yang menarik dari bagian menentukan gol, kami diajari menggunakan teknik SMART (Spesific, Measureable, Achieveable, Realistic dan Time Based).

Apa yang ingin kamu capai, bagaimana kamu akan mengukur apa yang kamu lakukan itu sudah termasuk sukses, apa mudah dicapai, apa realistis dan apakah punya jangka waktu yang terukur dan pasti?

Balik lagi ke komunitas kami di desa Taiftob, Timor, gol pertama kami dalam satu tahun ke depan nanti kami akan meluncurkan Sandalwood Heritage Trail. Kami mulai aktif menyelesaikan riset dan pemetaan, melakukan penguatan kapasitas semua pihak yang terkait di dalam dan meyakinkan komunitas lain atau pemerintah untuk ikut mendukung program kami ini.

Dari Blackburne House kami berjalan kami menuju pusat kreatif orang muda Liverpool di Baltic Triangle. Di sana ada sebuah ruang kerja kolaborasi keren bernama Baltic Creative Campus tempat puluhan seniman, pekerja kreatif dan perusahaan yang bergerak di industri kreatif dan orang muda berkumpul, menyewa ruang untuk berkantor atau menjual banyak produk mereka.

Mereka punya warung kopi, 70 studio di bidang teknologi digital dan community space. Mereka menghubungkan komunitas orang muda, industri kreatif dan bisnis sosial itu sendiri. Ekosistemnya terjaga sebab mereka bertumbuh bersama.

Ruang yang disewakan diciptakan senyaman mungkin di rumah-rumah bekas gudang. Liverpool sebagai kota pelabuhan tua punya banyak sekali bangunan tua yang unik dan kemudian disulap menjadi ruang kreatif bagi penduduk kotanya. Ada dapur, kamar mandi, tempat berolahraga dan sepeda yang disiapkan di ruang kerja kolaborasi itu.

Satu hal menarik yang saya temui di Baltic Triangle ini: ada banyak sekali poster, buku program komunitas dan agenda bulanan kota, mungkin ratusan jumlahnya.

Menurut saya, sebuah kota bisa dianggap berbudaya jika punya pemikir dan mengajak warganya ikut berpikir, mengapresiasi pemikiran orang lain. Apa yang dikatakan Jude, Ben atau Kurtis pada paginya bukan isapan jempol belaka.

Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia (ISTIMEWA)

Mereka tahu betul kotanya, mereka punya mimpi dan visi yang sama akan kehidupan yang lebih baik di kota itu sekarang dan nanti, sehingga setiap apa yang mereka lakukan, sendiri atau bersama, mengarahkan mereka pada keniscayaan itu.

Liverpool adalah kota multietnis yang warganya sadar bahwa sekat ras dan agama harus dihancurkan. Betapa indahnya hidup berdampingan di kota yang indah, kreatif dan inovatif sebagai warga yang sama dan setara dalam setiap kesempatan.

Kami mengakhiri hari di kota yang khas dengan mayoritas bangunannya terbuat dari bata merah tanpa diplester sehingga menambah karakter yang kokoh dan alami.

Di Baltic Market, masih dalam kawasan kreatif Baltic Triangle (lokasinya mirip dan seluas Kampung Solor, LLBK hingga Bonipoi Kupang), kami mendapat voucher untuk makan malam senilai 10 poudsterling. Baltic Market seperti pasar malam di Indonesia yang khusus menjual makanan, aneka bir dan musik dari seniman lokal.

Dari bekas gudang yang antik kios-kios yang menjual makanan dan minuman eksis juga dengan prinsip kewirausaan sosial: sebagian keuntungan tidak kembali ke pemilik modal namun diinvestasikan lagi untuk membangun komunitas dan ekosistem yang ada dan seterusnya. Pada akhirnya semua maju bersama.

Kami menginap dua malam di hostel berjejaring YHA, yang juga memakai prinsip kewirausahaan sosial. Bahkan HTC Group yang menyediakan jasa bus yang akan membawa kami selama 11 hari keliling Inggris juga adalah sebuah kewirausahaan sosial juga (baca: hctgroups.org). Saya tak sabar untuk berkunjung ke kota berikutnya, Bradford. *

* Dicky Senda adalah penulis 3 buku cerpen, pegiat makanan dan sejak dua tahun terakhir bergiat di sebuah komunitas warga bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lakoat.Kujawas merupakan komunitas yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang berkesenian, toko online produk khas Mollo, homestay dan ruang arsip.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved