Literasi dan Gelombang Menulis Buku, Begini Dinamikanya yang Tidak Banyak Orang Tahu

Seirama dengan itu, dalam waktu sekejab, muncul aneka karya tulisan berupa buku. Para guru terutama yang selama ini

Literasi dan Gelombang Menulis Buku, Begini Dinamikanya yang Tidak Banyak Orang Tahu
ilustrasi 

Kedua, dibutuhkan strategi jitu dalam pemasaran buku. Kembali kepada buku karya para guru mesti ditempatkan dalam jaringan kerja sama yang kuat.

Dalam organisasi profesi, mestinya ada komitmen anggota untuk `wajib' mempromosikan bahkan harus membeli buku sebagai wujud nyata dukungan dan terutama agar penulis tidak sampai merugi oleh penerbitan buku.

Tahapan pemasaran dengan analisis rencana bisnisnya mestinya begitu kuat dianalisis. Jaringan perlu dibangun agar ketika buku tiba, semuanya telah bergerak mendukung.

Kehadiran media sosial bisa sangat membantu. Tetapi lebih dari itu, perlu disajikan análisis, komentar, dan sinopsis yang bisa membantu orang untuk turut membeli. Mereka membeli bukan karena `rasa iba, tetapi memang tergerak oleh intisari buku.

Ketiga, perlu memerhatikan `timing' dan kebutuhan pasar. Menulis seperti kata Mark Twain tidak sulit. Bahkan hal itu sangat mudah. Yang menjadi masalah, apakah hal yang ditulis menjawabi kebutuhan nyata? Apakah tulisan buku menjawab pertanyaan yang nyata hadir dari tengah pembaca?

Di sini sangat mengandaikan pendekatan induktif dalam proses penulisan. Sebuah tulisan yang berpijak pada kenyataan dan bergerak membawa pencerahan sebagai jawaban.

Hal itu berbeda dengan metode deduktif yang selalu bergerak dari pemahaman umum kemudian ditarik benang merah sebagai kesimpulan. Yang dimaksud, di balik penerbitan sebuah buku atau artikel terkandung pertanyaan yang perlu dijawab.

Dalam banyak hal, penulisan buku atau artikel lebih ingin `menyebarkan' apa yang dianggap penting oleh penulis. Ia berusaha meyakinkan pembaca akan permasalahan yang diangkat. Hanya saja di tengah budaya literasi yang belum kuat, isu yang diangkat harus benar-benar lahir dari permasalahan konkrit dan menyentuh.

Sementara itu yang dimaksud dengan `timing' adalah waktu yang pas untuk melansirkan sebuah buku. Sebuah naskah tidak mesti `dipaksakan' untuk diterbitkan ketika belum ada momen yang pas untuk itu. Di sinilah butuh kecermatan untuk melihat peluang yang ada dan melansirkan pada momen yang pas.

Strategi seperti ini hanyalah masukan yang perlu dipersiapkan. Hanya dengan demikian gelombang menulis yang kini sangat `merasuki' para guru diimbangi dengan kecermatan sehingga hal itu berimas positif bagi penulis: bagi ekonomis maupun karir. Atau minimal agar penulis tidak harus `mengutang' demi menerbitkan sebuah buku. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved