Literasi dan Gelombang Menulis Buku, Begini Dinamikanya yang Tidak Banyak Orang Tahu

Seirama dengan itu, dalam waktu sekejab, muncul aneka karya tulisan berupa buku. Para guru terutama yang selama ini

Literasi dan Gelombang Menulis Buku, Begini Dinamikanya yang Tidak Banyak Orang Tahu
ilustrasi 

Keputusan Tere Liye berhenti menulis buku cukup mengundang tanya banyak pihak. Hal itu terjadi karena `keberhasilan' seorang penulis dihitung dari jumlah eksemplar yang dijual. Permasalahan, setiap penjualan dihitung sebagai royalti. Tere membuat simulasi pajak yang cukup membuat kita terperangah.

Bila orang dengan penghasilan sama (misalnya lawyer, akuntan, artis terkenal) Rp 1 miliar, tetapi hal itu dilihat sebagai bruto. Yang akan dihitung pajak hanyalah penghasilan netto yang bisa saja separuhnya.

Dari sana baru terhitung jumlah pajaknya. Tetapi bagi seorang penulis, karena semuanya ditempatkan sebagia royalty, maka penghitungannya bersifat menyeluruh.

Hal ini hanya ingin menekankan bahwa kehadiran sebuah buku tidak serta merta membuat seorang penulis berbangga secara ekonomis. Memang, dari sisi karir, kehadiran buku bisa sedikit `mendongkrak' keterkenalan penulis. Tetapi hal itu jauh dari sisi ekonomis.

Dalam banyak kasus, seorang penulis harus `berjibaku' membayar jumlah tertentu dari buku yang diterbitkan. Semakin banyak jumlah yang dipesan, harga per eksemplar makin turun. Namun pengandaikan itu tentu tidak terlalu berlebihan kalau penulis yang dimaksud adalah seorang guru.

Tanpa merendahkan penghasilan guru, tetapi upaya mencetak 100 eksemplar dengan harga satuan misalnya Rp 50.000, maka dana yang harus disediakan adalah Rp 5 juta. Sebuah dana yang tidak sedikit, meski kemudian akan dihadirkan dengan kecemasan tentang penyerapan di pasar.

Strategi Marketing

Menyikapi kenyataan menantang, dibutuhkan strategi. Pertama, butuh tim seleksi naskah yang sangat ketat dengan memerhatikan kualitas dan tingkat analisis penerimaan pasar. Proses ini memang pahit. Tim seleksi kerap bersikap `keras' menolak kelayakan naskah.

Permasalahannya, apakah penerbit `kecil' memiliki tenaga yang cukup untuk melakukan proses ini? Bukan rahasia, penerbit `kecil' kerap berhadapan dengan tuntutan hidup. Kualitas karya tidak begitu terlalu diperhatikan dan akan diterima sejauh ada kemampuan penulis untuk membayar `ongkos' percetakan. Hal ini tentu saja akan merembet jauh.

Pada tataran ini, tidak sedikit orang yang merasa `lebih menantang' melewati proses seleksi pada penerbit `ternama', hanya sekadar test tentang kelayakan yang harus dilewati, meski dalam banyak hal belum juga menjamin. Penerbit ternama kerap juga menurunkan `kontrol' terutama ketika penulisnya sudah menyatakan sedia membayar berapapun yang akan dicetak.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved