Datang Bawa Beras Pulang Bawa Kacang

Kalau beras yang dibawa itu sudah habis terjual, maka saat pulang ke pelabuhan asal, kapal-kapal ini pasti membawa hasil bumi dari Lembata

Datang Bawa Beras Pulang Bawa Kacang
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
Firman, ABK kapal beras sedang menanti warga yang membeli beras di kapal yang sedang berlabuh di Pelabuhan Lewoleba, Senin (25/6/2018) pagi.

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA -- "Semua kapal yang datang dari Makassar, Sulawesi Selatan membawa beras untuk dijual di Lembata. Kalau beras yang dibawa itu sudah habis terjual, maka saat pulang ke pelabuhan asal, kapal-kapal ini pasti membawa hasil bumi dari Lembata, seperti kacang tanah, kacang hijau, kopra dan lainnya."

Hal ini disampaikan Firman dan beberapa ABK lainnya, ketika ditemui Pos Kupang.Com di Pelabuhan Lewoleba, Senin (25/6/2018) pagi

Dikatakannya, kapal-kapal beras itu tak boleh pulang tanpa muatan. Kapal itu pulang harus membawa muatan supaya bisa membantu biaya operasional kapal.

Jika selama ini kapal-kapal itu datang membawa beras, maka saat pulang ke pelabuhan awal, kapal pasti membawa muatan berupa komoditi hasil bumi dari Lembata. Kebiasaan tersebut sudah terjadi selama ini.

Hanya saja, lanjut dia, volume komoditi yang diangkut dari Lembata, tak sebanyak volume muatan dari Sulsel. Kacang tanah yang diangkut dari Pelabuhan Lewoleba, misalnya, hanya satu dua ton saja. Padahal lahan pertanian di Lembata sangat cocok untuk jenis tanaman yang satu ini.

Begitu juga komoditi pertanian yang lainnya, seperti kacang ijo. Kacang ijo ini sangat sedikit padahal harga jualnya relatif tinggi. Yang dibawa dari Lembata juga paling banyak 3 ton dan itu hanya dibawa setelah musim panen. Lebih dari itu tak ada lagi kacang ijo yang dibawa dari Lembata untuk dijual ke Makkasar atau pelabuhan lain di Sulawesi.

Menurut dia, apa yang disampaikannya itu bisa menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat Lembata. Pasalnya, daerah ini sangat kaya akan hasil pertanian, namun potensi itu belum digarap maksimal baik oleh pemerintah maupun masyarakat setempat. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved