Elisabeth Mengaku Panen Hanya 10 Karung dari Sawa Irigasi Mauhau

Elisabeth Liha Nona mengaku hasil dari tanaman padi sawah yang dibudidayakanya hanya sepuluh karung saja.

Elisabeth Mengaku Panen Hanya 10 Karung dari Sawa Irigasi Mauhau
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Para petani di Mauhau sedang menanam padi di lahan sawah. 

Laporan Repoter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU - Elisabeth Liha Nona petani asal persawahan saluran irigasi Kambaniru Kelurahan Mauhau Kecamatan Kambera Kabupaten Sumba Timur mengaku hasil dari tanaman padi sawah yang dibudidayakanya di atas lahan miliknya seluas 2 hektar pada lokasi lahan persawahan tersebut hanya sepuluh karung saja.

Baca: Ini Update Prakiraan Cuaca Transportasi Darat di Wilayah NTT

Elisabeth menyampaikan hal itu ketila ditemui POS-KUPANG.COM di kediamnya di Mauhau, Kamis (21/6/2018) pagi.

Elisabeth mengaku, hanya memperoleh sedikit hasil tersebut karena terserang hama dan penyakit.

"Saya punya kalau hasil normal, saya bisa peroleh sampai 3 ton di atas lahan sawah milik saya 2 hektar itu, tapi karena kena penyakit ini saya tidak peroleh apa-apa," ungkap Elisabeth.

Elisabeth mengatakan, hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi di lokasi persawahan Irigasi Mauhau tersebut berupa penyakit wereng, hama tikus, keong mas dan hama burung.

"Penyakit ini bukan hanya menyerang padi pada musim tanam kali ini saja, tetapi hampir setiap kali musim tanam. Pokoknya kita selalu gagal panen. Padinya tumbuh berbulir tapi tidak berisi hanya lurus saja bulirnya. Kami orang Sumba Timur bilang Patuji," kata Elisabeth.

Petani lainya, Lasarus Mangiwie kepada POS-KUPANG.COM juga menyampaikan hal yang sama. Kata Lasarus akibat diserang hama dan penyakit itu, tanaman padi yang ditanamnya di atas lahan miliknya seluas 40 are, Ia hanya memperoleh hasil sedikit. Sebenarnya jika hasil normal di lahan seluas 40 are itu bisa mencapai 2 ton.

"Pokok kita petani di Mauhau ini, hampir setiap kali panen gagal terus, karena hama penyakit ini. Kita tidak tahu obatnya apa kita sudah lakukan berbagai macam obat pemberantas hama dan penyakit, tetapi tetap juga sia-sia," ungkap Lasarus.

Kata dia, akibat gagal panen tersebut mereka mengalami kerugian yang sangat besar tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Mulai dari proses pembajakan, pembelian obat, pupuk, sampai dengan biaya tenaga kerja saat menanam maupun saat panen sangatlah besar biayanya.

"Meskipun begini terus hasilnya, tetapi kami tetap kerja saja demi perut kami. Kita mau tidak kerja tapi mau makan apa, tidak ada hasil lainya,"ungkap Lasarus.

Petani setempat lainya, Budi Kome juga kepada POS-KUPANG.COM menyampaikan hal yang sama.

Budi mengatakan, dirinya juga memiliki lahan sawah seluas 2 hektar, namun karena hama dan penyakit tersebut menyerang, ia hanya memperoleh sedikit bahakan lebih banyak gagal panenya. (*)

Penulis: Robert Ropo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved