Ini Lima Kritik Agus Harimurthi Yudhoyono untuk Pemerintahan Jokowi-JK

Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, menyampaikan orasi pada Sabtu (9/6/2018) lalu.

Ini Lima Kritik Agus Harimurthi Yudhoyono untuk Pemerintahan Jokowi-JK
KOMPAS.COM
Agus Harimurthi Yudhoyono menyampaikan orasi bertajuk Mendengar Suara Rakyat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Sabtu (9/6/2018). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, menyampaikan orasi pada Sabtu (9/6/2018) lalu. Orasi yang berdurasi 40 menit tersebut bertajuk "Mendengar Suara Rakyat".

Dalam orasinya tersebut, Agus menyampaikan sejumlah hal, termasuk ajakan untuk memelihara persatuan dan kesatuan. Namun demikian, Agus juga melontarkan beberapa kritik terhadap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Baca: Fredrich Yunadi Geram Saat Majelis Hakim Menolak Permintaan Pulang saat Lebaran

1. Daya beli masyarakat
Agus menyatakan, meskipun angka-angka indikator makroekonomi relatif baik, namun kenyataannya di lapangan berbeda. "Hampir di setiap tempat, yang kami datangi, rakyat berteriak; 'Pak, bagaimana ini? Harga-harga kebutuhan pokok naik! Barang-barang makin mahal'," kata Agus.

Agus menyebut, di satu sisi, harga-harga kebutuhan, naik secara signifikan. Di sisi lain, kemampuan dan kesempatan masyarakat, makin terbatas untuk memperoleh penghasilan yang layak.

Harus diakui, sebut Agus, daya beli rakyat memang menurun. Utamanya adalah rakyat berpenghasilan rendah dan kurang mampu.

2. Kenaikan tarif listrik
Agus mengungkapkan, selain biaya hidup, pengeluaran rumah tangga juga terus meningkat. Contohnya adalah kenaikan tarif listrik.

"Tarif listrik naik lebih dari 140 persen, antara bulan Desember 2016 hingga Juli 2017," sebut Agus.

Pencabutan subsidi listrik untuk golongan 900 VA, imbuh dia, berdampak terhadap hampir 19 juta pelanggan rumah tangga. "Ini tentu, secara langsung berpengaruh terhadap daya beli rakyat," ungkapnya.

3. Lapangan kerja
Menurut Agus, pekerjaan bukan hanya soal memperoleh pendapatan. Pekerjaan juga merupakan harga diri dan penerimaan sosial.

"Itulah sebabnya, pengangguran dan lapangan kerja, selalu menjadi persoalan sensitif," tuturnya.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved