Satu Per Satu Bunga Pucuk Metah Mati Kekeringan

Kondisi itu terjadi karena tanaman itu tidak pernah disiram selama beberapa bulan terakhir.

Satu Per Satu Bunga Pucuk Metah Mati Kekeringan
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
Bunga pucuk merah yang ditanam pada median jalan di area Pelabuhan Lewoleba, mati kekeringan seperti terlihat pada gambar yang diabadikan, Kamis (31/5/2018).

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA -- Sekarang ini satu per satu bunga pucuk merah yang ditanam pada
median jalan di dalam pelabuhan Lewoleba, mati kekeringan.

Kondisi itu terjadi karena tanaman itu tidak pernah disiram selama beberapa bulan terakhir.

Kondisi itu menimbulkan banyak reaksi masyarakat. Pasalnya, di area pelabuhan itu ada aliran air yang tidak pernah kering sepanjang tahun.

Rupanya tak satu pihak pun yang beraktivitas di dalam area pelabuhan itu yang peduli terhadap nasib tanaman ini. Alhasil, kendati tanaman itu sudah tumbub besar tapi kini mati kekeringan.

Pantauan Pos Kupang.Com Kamis (31/5/2018) siang, ada belasan bunga pucuk merah kini sudah mati kekeringan. Tanaman itu mati karena tak satu pihak pun yang menyiraminya.

Padahal persis pada sisi kiri pintu gerbang pelabuhan itu, ada air yang mengalir sepanjang tahun. Air itu tak pernah kering walaupun pada puncak musim panas di bulan Oktober.

Beberapa pihak menyebutkan tidak dirawatnya tanaman pada taman jalan itu merupakan tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lembata.

Pasalnya pada instansi itu ada bidang yang punya tugas mengurus taman dalam kota Lewoleba.

Bidang itu praktis tak punya peran sama sekali mengurus taman dalam kota. Buktinya, taman kota sama sekali tak terurus, median jalan yang juga ditanami aneka bunga pun demikian adanya. Dan, matinya bunga pucuk merah di area Pelabuhan Lewoleba itu, merupakan bukti paling nyata betapa instansi teknis tak melaksanakan tupoksinya seperti yang diharapkan.

"Sekarang ini kita hanya bisa menunggu apakah dinas lingungan hidup bisa menangani masalah itu atau tidak. Kita juga tunggu apakah para pihak yang beraktivitas di area pelabuhan itu, seperti KP3 Laut, Polair, Syahbandar, pengusaha warung makan, dan para buruh, apakah punya kepekaan atau tidak dalam mengurus hal kecil ini," kritik Melkior Ola Nuban saat ditemui Pos Kupang.Com, Rabu (31/5/2018). (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved