Panen Madu di Wilayah ini Ternyata Dimulai dengan Upacara Adat
mereka secara tidak sengaja mematahkan ranting pohon Ojang, mereka akan buat upacara adat. Atau dahan pohon patah karena angin
Penulis: Felix Janggu | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Wartawan POS KUPANG.COM, Feliks Janggu
POS KUPANG.COM|LARANTUKA- Madu Hutan di Wilayah Desa Duli Pali Kecamatan Ilebura Flores Timur ternyata dominan bersarang di pohon yang disebut masyarakat setempat sebagai Pohon Ojang.
Pohon Ojang di beberapa titik di hutan tunbuh sebagai pohon raksasa dibandingkan pohon lain di sekitarnya. Pohon ini tempat paling nyaman bagi Madu Hutan untuk bersarang.
Pohon ini pun mendapat tempat istimewah bagi masyarakat Dulipali. Sebagai pohon warisan suku jika di sana ada sarang madunya.
Kepala Desa Dulipali Thomas Miten Tukan, sekretaris desa Karolus Dao Bukan, dan staf Anselmus Ade Dorce dan Yasintha Lina Bukan ramai-ramai menceritkan tradisi Pohon Madu di Duli Pali.
Sebanyak 10 keluarga petani Madu Hutan di wilayahnya mempunyai tradisi unik setiap kali memanen madu.
"Jadi panen madu hutan itu didahului oleh upacara adat. Madu hutan juga bertahan di pohon itu karena mereka undang madu itu datang,' cerita Anselmus.
Meski Madu Hutan sudah meninggalkan pohon itu, masyarakat petani madu ketika sudah menggelar upacara adat di situ, maka madunya akan kembali ke tempat itu.
"Misalnya mereka lihat madu baru bersarang di sebuah pohon, mereka akan taro (menyimpan) batu di bawah pohon dan gelar doa (seremoni adat) sedikit, madu tidak akan pergi,' kata Anselmus.
Yasinta yang lahir di keluarga petani madu menceritakan ritus-ritus kecil yang selalu ditaati oleh para petani madu.
"Misalnya mereka secara tidak sengaja mematahkan ranting pohon Ojang, mereka akan buat upacara adat. Atau dahan pohon patah karena angin, akan dibuat juga upacara adat supaya dahan pohon itu hidup kembali," kata Yasinta.
Yasinta mengatakan Pohon Madu begitu berharga karena merupakan warisan secara turun temurun. Bahkan bisa memicu konflik jika ada yang dengan sengaja memotong pohon madu.
"Atau misalnya ada yang bakar hutan merembes ke pohon ini, petani madu bisa sangat marah dan meminta ganti rugi besar,' tambah Thomas.
"Kalau sudah urusan begini, kami pemerintah repot untuk urus," tandas Thomas.
Thomas mengatakan petani madu di desanya berjumlah 10 orang. Sebagian menjadikan mata pencaharian utama dan mendulang keuntungan puluhan juta rupiah setiap kali panen.
"Minimal satu orang tiap tahun panen sekitar 100 liter. Mereka mendapatkan pemasukan yang cukup bagi keluarga mereka," kata Thomas. (*)
Baca: Warga Oenbit Laporkan Aksi Pembalakan Pohon Jati di Kawasan Hutan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pohon-madu_20180521_153951.jpg)