Suriah dan ISIS Mulai Sepakat untuk Gencatan senjata

Rezim Presiden Bashar al-Assad bulan lalu melancarkan serangan berskala besar ke distrik Hajar al-Aswad di Damaskus, yang dikuasai ISIS, dan kamp

Suriah dan ISIS Mulai Sepakat untuk Gencatan senjata
(REUTERS/Bassam Khabieh)
kerusakan di kota Douma, Timur Ghouta, Suriah, Foto 30 Maret 2018 - 

POS KUPANG.COM - - Pasukan pro-pemerintah Suriah dan kelompok ISIS bersepakat untuk gencatan senjata di Damaskus selatan pada Sabtu (19/5) waktu setempat, setelah pertikaian selama beberapa pekan terakhir di benteng ISIS di Ibu Kota Suriah itu.

Rezim Presiden Bashar al-Assad bulan lalu melancarkan serangan berskala besar ke distrik Hajar al-Aswad di Damaskus, yang dikuasai ISIS, dan kamp pengungsi Palestina Yarmuk. Bentrokan tersebut dilaporkan menelan banyak korban jiwa dari kedua pihak.

"Sebuah gencatan senjata diberlakukan siang hari ini, mungkin selama lima jam," demikian laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM) yang berkantor pusat di London, Kerajaan Inggris, layaknya dikutip AFP.

Kepala Observatorium Rami Abdel Rahman mengatakan kepada AFP pada Sabtu malam bahwa gencatan tersebut, yang bisa menjadi awal bagi evakuasi pejuang ISIS dari sana, masih berlaku.

Dia mengatakan gencatan itu dinegosiasikan oleh sekutu rezim Rusia dan faksi Palestina yang pro-pemerintah Suriah.

Sementara itu, Kantor berita negara Suriah (SANA) mengutip sumber militer yang membantah persetujuan.

Pasukan loyalis melancarkan serangan ganas di Damaskus selatan setelah menangkap sejumlah orang di Ghouta timur, yang memberontak di dekat ibu kota pada bulan April 2018.

Mereka telah merebut kembali lingkungan Qadam, tetapi para jihadis mempertahankan pengawasan sekira 70 persen di Yarmuk.

Menurut Observatory, pertempuran di Damaskus selatan telah menewaskan 484 anggota ISIS dan banyak lagi
dari 250 pejuang pro-rezim, serta 56 warga sipil.

Dulu kawasan itu termasuk sebuah distrik distrik berkembang bagi sekira 160.000 warga Palestina dan Suriah, dan kini penduduk Yarmuk
telah jatuh ke hanya beberapa ratus orang.

Perang Suriah telah menyebabkan lebih dari 350.000 orang tewas sejak dimulai pada 2011 secara brutal akibat tekanan protes anti-pemerintah, sebelum berputar ke dalam konflik kompleks yang melibatkan masyarakat dunia, dan kekuatan kelompok ISIS. (*)

Baca: Pilgub NTT, 3,2 Juta Surat Suara Sedang Dicetak

Editor: Ferry Ndoen
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved