Peringati Hari Reformasi, Ini yang Dilakukan BEM Fakultas Hukum Undana Kupang

Diskusi publik ini merupakan tanggung jawab moril kami sebagai mahasiswa untuk menjalankan fungsi kontrol sosial dan agen perubahan bangsa.

Peringati Hari Reformasi, Ini yang Dilakukan BEM Fakultas Hukum Undana Kupang
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Para pemateri dalam diskusi publik Fakultas Hukum Undana, Sabtu (19/5/2019) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Diskusi publik ini merupakan tanggung jawab moril kami sebagai mahasiswa untuk menjalankan fungsi kontrol sosial dan agen perubahan bangsa.

Hal itu di sampaikan Mangara Tua Silaban selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang di sela diskusi, Sabtu (19/5/2018) siang.

Bertempat di ruang Vicon Fakultas Hukum, Mangara menjelaskan, kegiatan ini juga diharapkan memberikan sumbangsih berupa pemikiran untu kemajuan bangsa.

Baca: Lucinta Luna Diundang ke Acara Kopi, Begini Penjelasan Hotman Paris

"Jadi mahasiswa bukan saja sebagai penonton dan penyimak tapi mahasiswa harus bergerak memberikan sumbangsih pemikiran bagi kemajuan bangsa," katanya.

Adapun narasumber diskusi publik ini diantaranya, Deddy R Ch Manafe, S.H, M.Hum selaku dosen Fakultas Hukum Undana, Zarniel Woleka, S.H dari Komunitas Peace Maker Kupang, Dra. Sisilia Sona selaku Kepala Kesbangpol NTT dan Drs. Simson Jacob selaku aktivis LSM dan reformasi 98.

Deddy R Ch Manafe, S.H, M.Hum dalam pemaparan materinya mengatakan, dari sisi ilmu, ketika masa Renaincience of law (masa Pencerahan hukum) sesungguhnya mau meletakan kembali ilmu itu untuk memanusiakan manusia.

"Nah manusia itu apa, manusia itu kalau kita lihat, terdiri dari tiga komponen yakni hati, tubuh dan akal atau rasio, relasi antara tiga komponen ini harus perikoresis, dia segitiga, tidak linear tidak hirarkis," jelas Deddy.

Deddy mengatakan, di dalam hati manusia itu terdapat nilai, di dalam nilai itu terdiri dari etika, moral dan estetika, maka manusia itu akan idealis. Namun, kata Deddy, manusia yang hanya mengasah rasionya dan di situ ada norma maka ia akan menjadi pengadil.

"Maka manusia yang ingin dibangun adalah keseimbangam antara semua itu, kenapa saya menganut model konstruksi seperti ini karna saya seorang Soekarnois," ungkapnya. (*)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved