Populasi Sapi Di NTT Capai Satu Juta Ekor

perkembangan produksi dan produktivitas kurang lebih mencapai 860 ribu di akhir tahun 2016 dan mendekati 2018 sudah melampaui satu juta

Populasi Sapi Di NTT Capai Satu Juta Ekor
pos kupang.com, herminan pello
Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Ir Dany Suhad 

Laporan Wartawan POS-KUPANG. COM, Hermina Pello

POS-KUPANG. COM, KUPANG - - Populasi sapi di NTT saat ini sudah mencapai satu juta ekor padahal pada awal tahun 2008 sekitar 450 ribu ekor lalu awal 2013 baru 600 ribu ekor. Selain itu juga pengeluaran sapi juga bertambah dimana pada periode 2008-2013,pengeluaran ternak 270 ribu ekor dan , periode 2013 - 2017 sudah mencapai 340 ribu, tahun 2018 diperkirakan 69 ribu sampai 70 ribu ekor sapi sehingga bisa mencapai 400 ribu ekor.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Ir Dany Suhadi yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (17/5/2018) sore mengatakan berkaitan dengan penyelenggaraan pembangunan peternakan khususnya periode 2018-2018, jika dilihat dari sisi produksi dan produktivitas maka salah satu indikator output yang bisa diambil yakni dari aspek populasi.

"Pada tahun 2008 populasi sapi di NTT Berkisar antara 450 ribu ekor sampai 500 ribu ekor untuk sapi. Tahun 2013 angka populasi mencapai 600 ribu lebih ekor. Dan ada survei ekonomi tahun 2013, sekitar 700 ribu, ekor.

Ada perkembangan produksi dan produktivitas kurang lebih mencapai 860 ribu di akhir tahun 2016 dan mendekati 2018 sudah melampaui satu juta. Berarti apa yang selama ini dijadikan tekad pemerintah telah mencapai target satu juta ekor sapi, "katanya

Dari sisi pengeluaran ternak yakni ada tren peningkatan secara tahunan. Dani mengatakan pada periode pertama dari tahun 2008-2013 pengeluaran ternak 270 ribu ekor dan , periode 2013 - 2017 sudah mencapai 340 ribu, tahun 2018 diperkirakan 69 ribu sampai 70 ribu ekor sapi sehingga periode 2013-2018 bisa mencapai 400 ribu ekor.

Berarti ada korelasi angka pertumbuhan dan produktivitas yang memberikan support kepada angka pengeluaran ternak.
Dia mengungkapkan perkembangan lainnya adalah situasi di hulu yakni dari aspek farm tata kelola .
"Selama ini pendekatan sebelumnya ada ketergantungan pada usaha peternakan pada pola ekstensifikasi tapi dengan kita melakukan pendekatan peningkatan berbasis Kelompok dan pendekatan berbasis teknik peternak dan ketiga sinergi antara kegiatan masyarakat yang berbasis peternakan dan berbasis ekonomi lainnya yang merupakan inovasi dari kebijakan gubernur yang kita kenal dengan anggur merah, "katanya

Dani menambahkan hampir 65 persen kegiatan anggur merah pada kegiatan kelompok berbasis pada kegiatan peternakan.

" Berarti Klop antara data input dan output adalah sinergi selaras. Dari sisi perubahan aspek tata kelola dari sistem ekstensifikasi menuju ke semi intensifikasi walau belum 100 persen tapi sudah mengarah seiring dengan berkurangnya lahan akibat pemanfaatan fungsi lahan,"jelasnya.

Perkembangan lainnya adalah berkaitan dengan aktivitas teknologi reproduksi dimana masyarakat peternak diperkenalkan dengan sistem inseminasi buatan dan sudah mulai dikenal terutama di Kabupaten Kupang, di Flores sudah dilakukan.

Dany menambahkan adanya sinergi dan harmonisasi antara kegiatan yang ada dalam RPJM Provinsi yang diturunkan dalam kebijakan anggaran dari pemerintah provinsi dengan beberapa kabupaten yang mengandalkan ternak, contohnya Ngada dengan program perak lalu Manggarai, Manggarai Barat Sumba Timur SBD Kabupaten Kupang dan kabupaten Rote Ndao.

"Semua sinergi dengan upaya dalam rangka Provinsi ternak mencapai satu juta ekor. Rote juga pertumbuhan ternak cukup meningkat. Ada relevansi dengan kebijakan yang dilakukan gubernur dan dapat diterima oleh pemerintah Kabupaten berarti selaras,"ungkap Dany. (*)

Baca: Jadi Ketua DPW NASDEM NTT Ini Janji Ray Sau Fernandez

Tags
Sapi
Penulis: Hermina Pello
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved