Hasil Identifikasi Kementerian Kominfo, Ada 1.000 Akun Media Sosial Muncul Pasca Bom Surabaya

Menkominfo, Rudiantara memanggil Facebook, Twitter, Google, dan YouTube, hingga Telegram untuk membahas masalah penanganan konten radikalisme

Enkripsi telah ikut diterapkan penyedia layanan sejenis seperti WhatsApp, namun Telegram masih berada selangkah di depan karena menyediakan berbagai fasilitas lain untuk memudahkan komunikasi, baik yang bersifat rahasia ataupun terbuka, dari individu ke individu ataupun menarget kalangan yang lebih luas.

Baca: Ini Harapan Menteri PAN & RB Pada ANRI yang Buat Peserta Rakornas Tepuk Tangan

Channels di Telegram misalnya, bersifat terbuka untuk publik dan bebas diikuti oleh pengguna lain (follower). Karena itu pula, channels sering digunakan oleh teroris sebagai sarana untuk menyebar propaganda, dengan cara broadcast konten.

Ada juga groups, private message, dan Secret Chat. Tampilan awal Secret Chat di Telegram.(Telegram Messenger LLP, screenshot by Robin van der Vliet) Fitur yang disebut terakhir ini terbilang istimewa karena menerapkan enkripsi client-to-client.

Semua pesan yang terkirim dienkripsi dengan protokol MTProto. Berbeda dari pesan biasa di Telegram yang bisa diakses dari berbagai perangkat karena berbasis cloud, pesan Secret Chat hanya bisa diakses melalui dua perangkat, yakni perangkat pengirim yang menginisiasi percakapan dan perangkat penerima.

Isi percakapan bisa dihapus kapan pun, atau diatur agar terhapus secara otomatis. Kombinasi beberapa fasilitas berbeda ini, menurut Parker, memudahkan grup teroris seperti ISIS dalam memakai Telegram sebagai “pusat komando dan kendali”.

Seorang teroris, misalnya, bisa memperoleh video sebuah serangan teror lewat Secret Chat, lalu menyebarkannya ke follower di Channel sebagai propaganda. “Mereka berkumpul di Telegram, lalu pergi ke platform lain yang berbeda-beda. Informasinya dimulai di Telegram, lalu menyebar ke Twitter dan Facebook,” ujar Parker, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Vox, Sabtu (15/7/2017).

Gampang masuk, susah keluar Meski menerapkan keamanan ketat dalam hal privasi, bergabung dengan Telegram relatif gampang. Pengguna cukup menyediakan nomor ponsel untuk menerima kode akses, yang kemudian dipakai untuk membuka akun. (kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kominfo Identifikasi 1.000 Akun "Medsos" Radikal Pascabom Surabaya", https://tekno.kompas.com/read/2018/05/15/16513257/kominfo-identifikasi-1000-akun-medsos-radikal-pascabom-surabaya.

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved