Dituduh Rusak Mobil Antar Jemput, Marta Digebuk Body Guard

Direkrut melalui jaringan calo TKW untuk dipekerjakan di Malaysia, Marta Ndiki tak hanya mendapat gaji kecil yang tidak sesuai perjanjian.

Dituduh Rusak Mobil Antar Jemput, Marta Digebuk Body Guard
POS-KUPANG.COM/EGINIUS MO'A
Paspor milik Marta Ndiki

Laporan wartawan Pos-Kupang.Com, Eginius Mo'a

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Direkrut melalui jaringan calo tenaga kerja wanita (TKW) untuk dipekerjakan di Malaysia, Marta Ndiki tak hanya mendapat gaji kecil yang tidak sesuai perjanjian.

Wanita asal Kampung Ladubewa, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, ini pernah digebuk oleh body guar (tukang pukul) sang bos merangkap sopir antar jemput pekerja. Marta dipukul karena dituduh telah merusak (membuat tergores) mobil antar jemput.

Baca: Termakan Bujuk Rayu Paman Marthinus, Marta Nekat ke Malaysia

"Kasus yang dilaporkan Marta perekrutan ilegal yang dilakukan oleh pamannya Marthinus Rau. Ternyata keberangkatan Marta bukan dibiayai Martinus. Dia bekerja sama dengan Maria Adinda Weti, warga Desa Done. Keduanya kerja sama untuk berangkat Marta ke Batam. Di sana dibuat paspor kunjungan bukan paspor kerja," kata Heni Hungan, aktivis Divisi Perempuan dan Anak Tim Relawan untuk Kemanusiaan-Flores (TRuK-F), kepada Pos-Kupang.Com, Jumat (13/4/2018) di Maumere.

Baca: Warga Noebana Buat Lima Kandang Sapi Jepit

Pengaduan Marta telah ditangani oleh Satuan Reserse dan Kriminalitas (Reskrim) Polres Sikka. Menurut Heny, pengaduan Marta, perekrutan ilegal yang telah menjerumuskan Marta.

"Di Batam, Marta bertemu dengan bosnya Maria, suami dan istri. Dia tidak tahu nama mereka hanya panggil bos suami dan istri. Korban tidak juga ingat lagi tinggal berapa lama di Batam, apakah seminggu atau satu bulan," ujar Heny.

Baca: BBPP Kupang Latih Peternak di Belu, Ini Tujuannya

Setelah pengurusan paspor selesai di Batam, kata Heny, mereka berangkat ke Malaysia. Di sana mereka tinggal di rumah bos, ternyata di dalam rumah itu telah ada lima orang.

Setiap hari, kata Heny, Marta bersama lima rekannya diantar dengan mobil oleh sopir ke rumah-rumah yang membutuhkan tenaga kebersihan.

Selama kerja di Malaysia, Marta hanya dua kali terima gaji. Katanya dibayar 800 Ringgiit/bulan, Marta hanya terima 400 Ringgit. Sisanya 400 Ringgit diambil sama bosnya untuk makan minum selama di sana. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved