Pelakor dan Wacana Peminggiran Perempuan. Nah?

Sebagai variasi bahasa, tentunya istilah `pelakor' dimunculkan karena pelbagai faktor kemasyarakatan, misalnya siapa berbicara

Pelakor dan Wacana Peminggiran Perempuan. Nah?
shutterstock
Ilustrasi 

Ideologi merupakan makna yang melayani kekuasaan dan makna yang berkontribusi bagi pemproduksian, pereproduksian dan transformasi hubungan-hubungan dominasi (Fairclough, 1992b: 87).

Menurut Fairclough, ideologi terbangun dalam masyarakat dalam hubungan dominasi berdasarkan struktur sosial, seperti kelas dan gender. Pandangan ini jelas mengisyaratkan bahwa istilah `pelakor' diciptakan karena ideologi dan hegemoni (dominasi).

Istilah tersebut diciptakan oleh mereka yang mungkin saja memiliki ideologi patrilineal-laki-laki berkuasa atas perempuan. Kaum laki-laki masih tetap diwatasi atau mewatasi diri mereka sebagai penguasa tunggal atas kaum perempuan, sehingga apapun yang dilakukan kaum perempuan tetap dianggap remeh.

Dari sisi gender, laki-laki masih tetap dianggap sebagai penguasa mutlak, sehingga kesalahan laki-laki tetap dianggap tak bermasalah, sedangkan kesalahan perempuan menjadi kesalahan fatal-memalukan.

Dari sisi kelas sosial pun, perempuan masih ditempatkan di kelas bawah sekalipun memiliki kelas sosial tinggi, peran dan kapasitas yang ulung. Itulah sebabnya, istilah `pelakor' hanya disematkan kepada kaum perempuan. Inilah salah satu bentuk upaya untuk tetap melanggengkan peminggiran terhadap kaum perempuan.

Maka, penciptaan istilah `pelakor' harus digugat. Sebabnya adalah istilah itu sesungguhnya menyimpan masalah besar, yaitu peminggiran terhadap perempuan. Perempuan dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus perselingkuhan.

Perempuan dipandang sebagai penyerobot relasi rumah tangga atau ikatan cinta orang lain, padahal dalam kasus perselingkuhan mesti ada komunikasi resiprokal; mesti ada kesepakatan antara perempuan dan laki-laki. Kalau salah satu pihak tak bersepakat, maka tak terjadi kasus perselingkuhan.

Malah, yang terjadi adalah kasus pemaksaan atau bisa saja pemerkosaan (jika salah satu pihak tak bersepakat). Untuk itulah, dalam kasus perselingkuhan tak boleh hanya perempuan yang dikambinghitamkan, tapi laki-laki juga.

Perbuatan `pelakor' semestinya berlaku biner. Artinya bahwa istilah pelakor mesti dialamatkan kepada pihak laki-laki atau suami yang tidak setia, juga kepada perempuan atau istri yang tidak setia. Namun, yang terjadi saat ini adalah istilah `pelakor' cenderung diatributkan kepada pihak perempuan atau istri yang tidak setia dengan pasangannya.

Seiring dengan gejala lingual ini, tak salah bila Nelly Martin menyebut wacana `pelakor' timpang karena menempatkan perempuan sebagai "perebut", seorang pelaku yang aktif dalam kegiatan perselingkuhan, dan menempatkan sang laki-laki seolah-olah pelaku yang tidak berdaya.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved