Ini yang Dilakukan Kelompok Bersenjata di Hadapan Ribuan Warga di Wanokaka
Dua kekonpok berkuda terdiri kelompok waihura dan kelompok praibakul (wanokaka atas-wanokaka bawah) bersenjatakan lembing berdiri berhadap-hadapan
Penulis: Petrus Piter | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Petrus Piter
POS KUPANG.COM, WAIKABUBAK- Ribuan masyarakat baik lokal, nasional hingga manca negara membanjiri arena pegelaran pasola Wanokaka di lapangan pasola Wanokaka di Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat, Kamis (8/3/2018).
Tua muda dan anak-anak serta para pejabat berbaur menjadi satu dalam suasana kegembiraan menyaksikan atraksi pasola di lapangan Pasola Wanokaka yang biasa digelar sekali dalam setahun.
Dua kekonpok berkuda terdiri kelompok waihura dan kelompok praibakul (wanokaka atas-wanokaka bawah) bersenjatakan lembing berdiri berhadap-hadapan dan siap menyerang satu sama lain.
Sementara sekeliling lapangan berdiri penuh sesak ribuan masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung atraksi dua pasukan berkuda yang berperang menggunakan lembing itu.
Detak kagum masyarakat seketika muncul bila melihat para penunggang kuda lenggak lenggok sekeliling lapangan dan menyerang melemparkan lembing ke arah lawan. Bila lemparannya mengenai lawan, suara teriakan khas Sumba membahana seseantero lapangan seakan memberi spirit para pemain untuk terus bertarung di medan laga.
Acara pagelaran pasola Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat secara resmi dibuka para rato dihadiri Wakil Bupati Sumba Barat, Marthen Ngailu Toni, S.P, Ketua DPRD Sumba Barat, Gregorius HBL Pandango, S.E
Juga hadir calon gubenur propinsi NTT periode 2018-2023, Viktor Bungtilu Laiskodat dan sejunlah tamu undangan lainnya serta ribuan masyarakat baik lokal, nasional hingga manca negara.
Acara pasola berlangsung kurang lebih 4 jam lamanya dan berakhir damai.
Wakil Bupati Sumba Barat, Marthen Ngailu Toni, S.P dalam sambutannya, meminta masyatakat Sumba Barat khususya masyarakat Wanokaka selaku tuan rumah pelaksanaan kegiatan pasola bersatu padu menjaga suasana kondusif agar pelaksanaan pasola kali ini berakhir aman dan damai.
Kepada masyarakat Wanokaka, ia berpesan agar jadilah tuan rumah yang baik dan menghormati tamu yang datang. Hal itu sebagai perwujudan semangat dan nilai luhur warisan nenek moyang yang terus terpelihara hingga kini.
Pasola bukan hanya milik masyarakat Wanokaka khususnya dan Sumba umumnya tetapi pasola sudah menjadi milik dunia.
Sebagai orang Sumba, kita patut berbangga karya Tuhan dan nenek moyang yang terus lestari hingga dunia mengaku Sumba sebagai slaah satu pulau terindah di dunia. Indah alamnya, budaya, perkampungan adat, batu kubur megalitikum dan indah pula pantai dan alam laut Sumba.
Karena itu sebagai orang Sumba harus menghormati kekayaan alam yang ada sekarang. Kalau dunia saja mengakui keindahan Sumba maka kita harus lebih dan lebih mencintai daerah ini. Mari menjaga, memelihara dan melestarikan kekayaan alam Sumba agar tetap jaya selalu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/atraksi-pasola-wanokaka-wanokaka_20180308_152131.jpg)