Aksi Simpatik "Pungli" di Jembatan Bambu Disumbangkan Bangun Kapela Nawuteu

Uang yang dihimpun setiap hari mencapai Rp 20 juta lebih lalu dibagi tiga,pemilik lahan, kelompok pemuda dan sumbangan ke panitia

Aksi Simpatik
POS KUPANG/EUGENIUS MOA
Hendrikus Fransiskus menerima sumbangan dari warga yang melintas di jembatan bambu di Kali Dagemage batas Desa Kolisia A dan B di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Selasa (20/2/2018) 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Eginius Mo'a

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Memegang sebuah ember putih, Hendrikus Fransiskus, meminta uang Rp 2.000, Rp 5.000 hingga Rp 20.000, Selasa (20/2/2018) pagi kepada pejalan kaki dan pesepeda motor yang hendak menyeberang di jembatan bambu di Kali Dagemage, batas Desa Kolisia A dan B, Kecamatan Magepanda.

Pungutan itu terkesan liar (Pungli) dilakukan semenjak crossway Dagemage di kilometer (Km) 18 arah utara Kota Maumere, Pulau Flores putus diterjang banjir, Senin (12/2/2018). Pungutan saat ini relatif murah dibanding ketika banjir bandang menerjang crossway delapan hari silam.

Hendrikus, satu dari empat kelompok mengelola pungutan di jembatan bambu. Bersama satu kelompok lagi yang dipimpin Vinsen Laro, keduanya mengelola dua jembatan bambu di wilayah bawah crossway untuk pengguna jalan yang datang dari utara Kecamatan Magepanda hingga Maurole, Kota Baru di Kabupaten Ende.

Hendrik menuturkan, pungutan dilakukan sejak empat hari yang lalu. Bersama 20-an pria di Kolisia B, mereka mencari bambu dan tali nilon, menyusun batu membentuk jembatan.

Ia mengakui uang yang dihimpun setiap hari mencapai Rp 20 juta lebih. Contohnya hari Senin (19/2/2018) terkumpul Rp 3 juta. Uang itu dibagi tiga, pemilik lahan, kelompok pemuda dan sumbangan ke panitia pembangunan Kapela Nawuteu.

"Kami tidak makan sendiri. Setiap hari kami setor sumbangan kepada panitia pembangunan kapela. Bagian untuk kelompok pemuda dibagi sama," ujar Hendrikus.

Vinsen Laro, mengatakan pungutan kepada pengguna jembatan bambu bersifat sukarela. Mereka tidak mematok besaran uang yang diberikan kepada kelompoknya.

Pungutan itu diakui Vinsen, dibagi merata kepada pemilik lahan, sumbangan kepada panitia pembangunan kapela dan bagian untuk pengelola.

"Ada yang kasih kami Rp 2.000, Rp 5.000 kami terima.Ada juga yang bilang tidak ada uang tidak masalah.Namun setiap sepeda motor harus bayar, karena tidak bisa sendirian. Harus ada orang lain yang membantu pegang di belakang agar tidak jatuh ke dalam air," ujar Vinsen. *

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved