Pohon Natal Unik Hiasi Kota Kupang, dari Daun Lontar hingga Botol Bekas

Seperti di Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi NTT, Rabu (20/12/2017). Pohon Natal

Pohon Natal Unik Hiasi Kota Kupang, dari Daun Lontar hingga Botol Bekas
Pos Kupang/Kolase
ilustrasi 

"Ini inisiatif kami sendiri untuk membuat pohon Natal. Karena setiap tahun tidak mendapat dana khusus untuk membuat pohon Natal, sehingga kami berinisiatif mencari bahan yang tidak membutuhkan banyak dana," ujarnya.

Angga mengatakan, kesulitan mendapatkan dana, para pemuda mulai berpikir membuat pohon Natal dari bahan bekas yang tidak dipakai dan dimanfaatkan untuk membuat pohon Natal. Ia menjelaskan, sudah lima tahun membuat pohon Natal dari bahan yang berbeda.

Tahun pertama, membuat pohon Natal dari gelas bekas air mineral yang dikumpulkan dari jemaat. Tahun kedua, membuat pohon Natal dalam bentuk kaca, tahun ketiga memanfaatkan ranting kelapa kering. Tahun keempat menggunakan bungkusan buah apel. Tahun kelima ini, para pemuda Gereja Maranatha Oebufu ini menggunakan kayu bekas.

Zet Tefa, yang juga pemuda Gereja Maranatha Oebufu, mengatakan, pengerjaan pohon Natal ini tidak lama karena tinggal dicat dan ditempel saja. Kayu yang sudah ada tidak perlu dirapikan, tetapi disesuaikan sehingga tetap terlihat rapi.

Untuk tahun ini, jelas Zet, pihaknya mendapat sumbangan seadanya dari warga Kelurahan Oebufu dan orang yang bersimpati dengan pekerjaan pemuda gereja. Pembuatan pohon Natal ini sudah tahap akhir dan tinggal memasang lampu Natal.
Selain pohon Natal, demikian Zet, mereka juga membuat kandang Natal berbagai bentuk seperti bentuk rumah dan kapal yang dilengkapi gambar anak rusa yang juga terbuat dari kayu bekas dan boneka salju.

Ia menjelaskan, pembuatan pohon Natal ini bermakna memotivasi para pemuda di Gereja Maranatha dan kelurahan Oebufu agar senantiasa bekerja sama dalam kasih dan persaudaraan dengan memanfaatkan bahan bekas pakai menjadi sesuatu yang bermanfaat tanpa harus menunggu uang yang banyak.

"Ini bagian dari menyambut perayaan Natal dan motivasi pemuda saat ini agar tidak selalu berpikir instan. Pohon Natal banyak dijual di toko dengan harga yang murah meriah. Tetapi, bagaimana pemuda berkreasi dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki untuk melakukan sesuatu yang bemanfaat," kata Zet.

Panitia Natal Gereja Anugerah, Andreas Hatu, mengatakan, pohon Natal di gereja ini dibuat karena ada lomba. Lomba diikuti enam rayon. Pohon Natal yang juara disimpan di gereja. Salah satu pohon Natal yang unik adalah dari rayon III. Pohon Natal dari kursi-kursi kaleng yang tidak dipakai lagi dan mau dilelang oleh gereja.

Ia mengatakan, sebelum dilelang kursi ini diberi cat warna putih dan dipakai untuk membuat pohon Natal. "Memang gampang susah, kami pakai besi kotak dari dalam, kami susun buka tutup kursi, diberi pernak-pernik dan ornament Natal," kata Andreas.

Ia menjelaskan, jemaat di Gereja Anugerah terdiri dari enam rayon dan rata-rata mereka yang berjualan di pasar. Untuk membeli pohon Natal di toko mereka tidak mampu. "Kami akhirnya berinisiatif membuat lomba dengan memanfaatkan barang bekas yang ada di sekitar," ujarnya.

Lomba ini, demikian Andreas, bertujuan menyatukan jemaat dari rayon-rayon di Gereja Anugerah. Selain itu, untuk membangun hubungan kekeluargaan dan berbagi kasih. (nia/ira)

Penulis: Hermina Pello
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved