Mengenai Kasus Difteri di NTT, Ini Penjelasan Dokter Theresia Sarlyn Ralo dari Dinkes Provinsi NTT

Untuk meningkatkan kewaspadaan serta antisipasi dini, lanjut Theresia, pihaknya sudah mengirim surat kepada kepala

Mengenai Kasus Difteri di NTT, Ini Penjelasan Dokter Theresia Sarlyn Ralo dari Dinkes Provinsi NTT
POS KUPANG/GEM
dr. Theresia Sarlyn Ralo, MPH 

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dr. Theresia Sarlyn Ralo, MPH mengatakan, sampai saat ini belum ada laporan kasus difteri di NTT.

"Sampai saat ini belum ada laporan kasus yang kami terima dari 22 kabupaten dan kota maupun dari dokter praktik swasta," kata Theresia di Kupang, Selasa (19/12/2017).

Dokter Theresia berharap kasus difteri yang sudah terjadi di berbagai provinsi di Indonesia tidak pindah ke NTT.

"Saat ini upaya yang kami lakukan adalah meningkatkan cakupan imunisasi rutin difteri atau DPT untuk sasaran bayi di bawah usia 1 tahun. Pemberiannya di Puskemas atau rumah sakit, posyandu. Semuanya gratis. Vaksinnya diperoleh dari Kementerian Kesehatan RI," jelasnya.

Baca: Waspadai Difteri di Nusa Tenggara Timur

Untuk meningkatkan kewaspadaan serta antisipasi dini, lanjut Theresia, pihaknya sudah mengirim surat kepada kepala Dinkes Kabupaten dan Kota di seluruh NTT.

"Kami sudah bersurat kepada kepala Dinas Kesehatan se-NTT untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap kasus difteri. Segera lapor dalam waktu 1x24 jam secara berjenjang untuk segera direspons karena logistik untuk penanganan kejadian luar biasa (KLB) kasus difteri hanya ada di Kemenkes RI. Logistik itu baru didistribusikan kalau ada KLB," demikian Theresia.

Difteri adalah infeksi bakteri yang lazimnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan juga dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut data World Health Organization (WHO), tercatat 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus.

Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak.

Baca: Waspada Wabah Difteri di Indonesia, Begini Cara Pencegahannya

Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90 persen dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia.

Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP.

Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016 sebesar 84 persen. Jumlah tersebut menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90 persen. (osi)

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved