Koperasi Sangat Membantu Masyarakat NTT

Terkait dengan kehadiran koperasi, ternyata selama ini koperasi membantu masyarakat kecil

Penulis: Gordi Donofan | Editor: Marsel Ali
Pos Kupang/Gordi Donofan
Pemateri saat memberikan seminar di Hotel Aston Kupang, Senin (18/12/2017) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Koperasi yang ada di NTT sangat membantu masyarakat. Karena sangat mudah dijangkau dan dinilai tidak menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan dana.

Selain itu bunga yang ditawarkan koperasi sangat kecil sehingga masyarakat tertarik untuk bergabung di Koperasi.

"Untuk meminjam uang lima ratus ribu hingga satu juta masyarakat tidak mungkin pinjam ke Bank karena terkesan banyak persyaratan pada Bank, tapi kalau di Koperasi sangat dipermudah. Dari sinilah ternyata Koperasi memainkan perannya yang luar biasa untuk meningkatkan inklusi keuangan," ungkap Luh Putu Mahyuni.

Ia mengatakan itu, saat memaparkan materi saat seminar Strategi Revitalisasi Koperasi Sebagai Jantung Perekonomian NTT di Hotel Aston, Senin (18/12/2017).

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas ini, mengatakan, masyarakat yang tidak terjangkau oleh sistem perbankan itu terjangkau sepenuhnya oleh Koperasi, melalui usaha bersama dengan menghimpun dana anggota.

Kemudian masyarakat mengembalikan uang kepada anggota koperasi berupa pinjaman.

"Itu hal yang menarik yang kamu temukan betapa koperasi sukses itupun memainkan perannya yang luar biasa, dalam hal melebarkan inklusi keuangan. Kemudian dengan demikian akses terhadap perbankan atau permodalan itu bisa terjangkau dengan berkoperasi," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, dari sisi eksternal pihaknya menemukan adanya pengaruh adat dan budaya bagaimana mengembangkan koperasi untuk bisa koperasi itu menjadi lebih besar. Koperasi harus memiliki kemampuan untuk menjadi besar.

"Koperasi didesak mau tidak mau menghimpun jumlah anggota banyak dan besar, kemudian menghimpun jumlah anggota yang besar. Kemudian menghimpun simpanan yang besar dari anggota. Untuk mencapai itu, ternyata beberapa kendala karena misalnya pola hidup masyarakat yang serba konsumtif. Itu kami temukan," ungkapnya.

Ia mengatakan, ada masyarakat lebih memilih untuk memelihara ternak ketimbang uang. Selain itu ada kendala bahwa masyarakat malas menabung.

"Ada juga kendala berupa kesadaran masyarakat yang masih rendah berkoperasi. Mereka masih familiar dengan rentenir dari pada koperasi. Di beberapa daerah kami menemukan kondisi seperti itu karena mereka baru sadar bahwa dengan menghimpun diri dalam satu usaha bersama yang disebut Koperasi mereka jutru akan sangat terbantu dibandingkan memilihnya pada rentenir yang suku bungannya jauh lebih tinggi," ungkapnya.

Mengenai independensi pengelolaan koperasi, menurut Mahyuni, ditemukan persoalan dimana ketika pengurus koperasi ingin tegas menegakan aturan, tapi ada kemudian otoritas yang lebih tinggi ikut campur. Memberikan semacam rekomendasi, surat dan segala macamnya.

"Dan ketika diikuti ternyata macet dan kami menemukan kasus seperti itu. Mungkin ini jadikan evaluasi bahwa penting sekali koperasi memikiki independensi didalam pengelolaan. Karena ketika sekelompok masyarakat sudah bersepakat membentuk koperasi dalam menerapkan aturan, maka aturan itulah yang harus dilaksanakan. Tanpa adanya campur tangan pihak otoritas yang lebih tinggi," ungkapnya. (*)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved