Kepausan

Paus Fransiskus Bertemu Pengungsi Rohingya, Ini yang Dikatakan Pemimpin Umat Katolik Itu

Paus Fransiskus dikenal sebagai pembela hak-hak pengungsi dan berulang kali mengungkapkan pembelaannya

Paus Fransiskus Bertemu Pengungsi Rohingya, Ini yang Dikatakan Pemimpin Umat Katolik Itu
AFP/Tiziana Fabi
Paus Fransiskus 

POS KUPANG.COM - Paus Fransiskus mengakhiri tur ke Asia hari ini setelah menggelar pertemuan dengan pengungsi Rohingya di Bangladesh yang dinilai isyarat solidaritas simboliknya kepada minoritas muslim yang dipaksa mengungsi akibat kekerasan di Myanmar itu.

Hari ini Paus mengunjungi sebuah rumah sakit di Dhaka yang dioperasikan oleh mendiang Bunda Theresa.

Paus Fransiskus dikenal sebagai pembela hak-hak pengungsi dan berulang kali mengungkapkan pembelaannya kepada Rohingya yang dia sebut "saudara dan saudari"-nya.

Sebelumnya di Myanmar, Paus menahan diri untuk tidak menggunakan kata "Rohingya" di depan publik, namun dia tegas meminta para pemimpin Budha di Myanmar untuk memerangi "prasangka dan kebencian".

Namun di Bangladesh, Paus terang benderang menyoroti isu Rohingya dengan menemui sekelompok pengungsi Rohingya dari berbagai kamp di Bangladesh selatan dalam pertemuan yang emosional di Dhaka.

Di antara yang ditemui Paus adalah gadis berusia 12 tahun yang kehilangan seluruh keluarganya ketika tentara Myanmar menyerbu desanya sebelum dia mengungsi ke perbatasan belum lama tahun ini.

"Tragedi ananda berat sekali, sungguh besar, tetapi tragedi itu punya tempat di hati kami," kata Paus seperti dikutip AFP. "Atas nama semua orang yang mempersekusi ananda, yang menyiksa ananda, di depan dunia yang berbeda inii, saya memohon ananda untuk memaafkan."

Kata "Rohingya"

Berbeda dari sewaktu mengunjungi Myanmar beberapa hari sebelumnya, Paus Fransiskus menyebut terang benderang pengungsi warga Rakhine, Mynamar, di Bangledesh, dengan kata "Rohingya".

Inilah untuk pertama kalinya Paus menggunakan lagi kata "Rohingya" setelah Uskup Agung Yangon di Myanmar menyarankan Bapa Suci untuk tidak menggunakan kata "Rohingya" selama di Myanmar karena akan memicu ketegangan dan membahayakan warga Kristen Myanmar.

Halaman
12
Editor: Putra
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved