Breaking News:

Waspadai Intrik Politik Pondi dan Popo

Tahun depan, Juni 2018, sesuai agenda Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, negara kita akan menghelat lagi

Editor: Putra

Pondi dan Popo, sebagai tokoh utama dalam ceritera tersebut, adalah dua orang laki-laki muda. Dikisahkan, mereka berasal dari keluarga sederhana dan sudah yatim piatu. Mereka bertandang dari satu kampung ke kampung yang lain.

Dalam berkomunikasi mereka santun dan sangat pandai bersilat lidah serta sulit dipatahkan. Untuk mewujudkan kepentingan mereka, termasuk dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, mereka mempunyai banyak intrik, lincah, lihaidan juga licik.

Dalam mengoperasikan aksi sosialnya, mereka selalu hadir secara tidak terduga, namun tepat waktu dan momentum. Sehingga mereka selalu mampu memperdaya dan menaklukkan orang lain sebagai sasaran yang dibidik.

Tidak tanggung-tanggung, sasaran yang mereka tuju yaitu orang-orang terpandang atau tokoh-tokoh yang mempunyai kedudukan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, tak terkecuali raja sekalipun.

Para korban tersebut, umumnya tidak merasa kalau menjadi "mangsa" atau "korban". Kalaupun ada tokoh yang sadar belakangan setelah dimangsa, namun tidak mempunyai nyali untuk menghadapi secara langsung dan apalagi memperkarakan dua orang bersaudara itu.

Sebagai contoh, salah penggalan kisah itu yaitu, "Suatu waktu Pondi dan Popo berkeliling dari kampung ke kampung sambil memikul sokal pandan yang cukup besar. Ketika tiba pada sebuah kampung, mereka menemui seorang bangsawan yang kaya. Mereka mengutarakan kepada orang kaya itu bahwa mereka mau menjual gong keramat peninggalan leluhur. Orang kaya itu berminat namun ingin melihat dan mencoba dulu membunyikan gong itu.

Mereka keberatan dengan alasan kalau sokal dibuka pada saat mereka masih ada maka akan dimarahi leluhur. Sokal itu boleh dibuka setelah mereka jauh dari kampung. Mereka hanya membolehkan orang kaya itu untuk memukul secara perlahan dinding luar sokal dan akan mendengarkan suara merdu gong keramat itu.

Orang kaya itu mengikuti saja petunjuk Pondi dan Popo. Ketika orang kaya itu melakukannya, memang ada gaung suara gemuruh dari dalam sokal. Dengan keluarnya suara itu, mereka makin memberi keyakinan kepada orang kaya itu bahwa kalau nanti dibuka dan dibunyikan akan lebih merdu lagi. Orang kaya itupun terbius dan terjadilah transaksi jual-beli.

Setelah mereka cukup jauh meninggalkan kampung itu, orang kaya itu mengajak tetangganya membuka sokal gong keramat. Begitu sokal terbuka maka mengamuklah tabuan besar liar dan menyebabkan bencana kematian di kampung itu, termasuk juga orang kaya tadi dan keluarganya.

Singkat ceritera, Pondi dan Popo digambarkan, dalam istilah daerah Kodi, sebagai "Toyo Politik (dieja: Toplitik)". Terjemahan harafiahnya adalah orang politik. Dalam konteks ceritera ini, orang politik yang dimaksud bermakna "kotor". Bisa disejajarkan juga dengan "preman politik", penipu dan perampok yang pandai bersandiwara.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved