Breaking News:

Waspadai Intrik Politik Pondi dan Popo

Tahun depan, Juni 2018, sesuai agenda Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, negara kita akan menghelat lagi

Editor: Putra

Oleh: Rofinus D Kaleka
Pemerhati masalah sosial politik, tinggal di Kabupaten Sumba Barat Daya

POS KUPANG.COM - Atmosfer sosial politik di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sudah mulai hangat suhunya. Tentu tidak lama lagi akan segera "hot". Ini merupakan aksi-reaksi logis dan lumrah setiap menjelang momentum politik.

Tahun depan, Juni 2018, sesuai agenda Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, negara kita akan menghelat lagi proses politik demokrasi langsung gelombang ketiga serentak pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Di NTT akan berlangsung Pilkada Gubernur-Wakil Gubernur dan Bupati-Wakil Bupati untuk sepuluh kabupaten yaitu Sikka, Sumba Tengah, Nagekeo, Rote Ndao, Manggarai Timur, Timor Tengah Selatan, Alor, Kupang, Ende dan Sumba Barat Daya.

Rentang masa tujuh bulan ke depan, bagi masyarakat umum memang terhitung masih cukup lama, namun bagi para praktisi politik dianggap tinggal menghitung hari lagi. Bahkan ada praktisi politik yang hiperbolakan dengan ungkapan "Tinggal Satu Minggu Hari Pasar Saja".

Jadi harap dimaklumi jika akhir-akhir ini para politisi baik para kandidat bakal calon (balon) kepala daerah dan wakil kepala daerah, pengurus partai dan massa yang gandrung politik dalam upaya mencuri start untuk meraih keberuntungan, mulai melakukan napak tilas, ziarah dan pengembaraan serta juga promosi politik pencitraan.

Ngara Kedeko

Ada sebuah kisah dalam kesusasteraan daerah di wilayah suku Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya yang cukup menarik untuk "dikait-kaitkan" dan diunggah kembali.

Kisah ini diharapkan memberikan nilai kearifan lokal bagi para politisi yang akan berlaga dalam pilkada dan konstituen yang menjadi penentu sukses atau tidaknya proses Pilkada menghasilkan "kepala daerah" yang bermartabat dan berkompeten menyuguhkan pelayanan prima untuk kesejahteraan rakyatnya.

Kisah itu dikenal dengan sebutan "Ngara Kedeko" (Ceritera Rakyat atau Dongeng). Judulnya "Pondi mono Popo (Pondi dan Popo)". Dongeng ini, meskipun belum didokumentasikan secara tertulis, namun tetap lestari dan sering dikisahkan oleh para orangtua, tentu yang mempunyai bakat berceritera.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved