Jurnalisme Warga

Pribumi Dan Psikologi Orang Kalah

Seperti Jokowi pada 2014, Anies pun diyakini membidik kursi RI-1 pada 2019 setelah berhasil menduduki kursi DKI-1.

Pribumi Dan Psikologi Orang Kalah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan (kanan) dan Sandiaga Uno (kiri) saling memberi hormat saat tiba di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (16/10/2017). Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih tersebut melakukan doa bersama pendukungnya sebelum melaksanakan pelantikan di Istana Negara. 

Saat mendampigi Megawati Soekarnoputri sebagai cawapres pada Pilpres 2009, Prabowo bersama capres Megawati dikalahkan Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono.

Dengan mengusung isu pribumi, Anies bukan hanya hendak mengejawantahkan psikologi orang-orang kalah, melainkan juga menunjukkan keberpihakannya kepada mereka yang termarjinalkan atau terpinggirkan dalam kebijakan pembangunan pemerintahan Jokowi, mungkin minus Jusuf Kalla, karena Wakil Presiden itu dianggap Anies sebagai patron politiknya.

Dalam konteks ini, Anies yang bukan benar-benar pribumi, sekali lagi bila masih boleh menggunakan istilah ini, menciptakan blunder, karena ia sendiri peranakan Arab (mohon maaf tanpa bermaksud mengembuskan isu SARA serta melanggar Inpres No. 26/1998 dan UU No. 40/2008).

Mengutip Herry Tjahjono (Kompas, 6 April 2013), sesuai hukum psikologi orang-orang kalah, sosok yang terkalahkan itu justru akan mendapat magnet simpati dan dukungan moral yang luar biasa dari rakyat.

Psikologi orang kalah pun menunjukkan tuahnya. Rakyat dikuasai kecenderungan bawah sadarnya yang selalu memihak, mendukung, dan memberi simpati kepada figur-figur yang "dianiaya, disakiti, dipinggirkan". Playing victim pun dimainkan dengan cerdik oleh Anies.

Namun mesti diingat, terlepas apakah Anies akan maju dalam Pilpres 2019 atau tidak, dan akan terpilih atau tidak, gaya kepemimpinan orang kalah tidak akan pernah membuat seorang pemimpin menjadi besar.

Ia hanya akan menjadi pemimpin rata-rata saja. Ada tiga hukum dasar (ke)pemimpin(an) besar.

Pertama, kepemimpinan besar tidak memberi ruang bagi praktik kepemimpinan orang kalah, sebab gaya kepemimpinan orang kalah sangat bertentangan dengan hukum dasar kepemimpinan besar: melayani! Praktis, kepemimpinan melayani adalah menjadi orang yang mengalah, bukan orang yang kalah.

Pemimpin (orang) yang kalah dikuasai sindrom orang kalah, tetapi sesungguhnya ingin menaklukkan orang lain.

Sementara pemimpin (orang) yang mengalah adalah orang yang justru telah menaklukkan dirinya sendiri dan tak pernah merasa perlu menaklukkan orang lain.

Halaman
1234
Editor: Alfons Nedabang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved