Berita Timor Rote Sabu

Jual Asam dan Kayu Api Untuk Beli Air

Warga kecamatan Oenino di TTS, menjual asam, kayu api dan kerajinan kasur kapuk untuk mencukupi kebutuhan makan minum

Jual Asam dan Kayu Api Untuk Beli Air
POS KUPANG/NOVEMY LEO
Camat Oenino, Jacobus Banamtuan 

Laporan Wartawan Pos Kupang.com, Novemy Leo

POS KUPANG.COM, SOE- Warga kecamatan Oenino di TTS, menjual asam, kayu api dan kerajinan kasur kapuk untuk mencukupi kebutuhan makan minum termasuk untuk membeli air bersih.

Camat Oenino, Jacobus Banamtuan dikonfirmasi, Selasa (17/10/2017) malam, mengatakan, wilayahnya memang sangat sulit air. Sejumlah sumur bor yang pernah digali hingga 100-an meter tidak bisa menemukan air sehingga sumur bor itu ditutup. Karenanya untuk mencukupi kebutuhan air 3.088 Kepala Keluarga (KK) di 7 desa itu harus membeli air langsung dari mobil tangki atau membeli air yang dijual di jirigen ukuran 20 liter dengan harga Rp 2.000 sampai Rp 3,000 per jirigen.

Satu bulan masyarakat harus mengeluarkan uang sebesar Rp minimal Rp 300.000 Rp 1.000.000 atau lebih untuk membeli air. Sedangkan satu tahun minimal masyarakat harus mengeluarkan uang sebesar Rp 1.000.000 atau Rp 6.000.000 hingga Rp 10.000.000 untuk membeli air.

"Nilainya itu tergantung kebutuhan air per keluarga, ada yang mengeluarkan uang Rp 1 juta, atau Rp 6 juta bahkan Rp 10 juta pertahun untuk membeli air," kata Jacobus.

Harga satu jirigen air ukuran 20 liter seharga Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per jirigen. Sedangkan harga air satu tangki ukuran 5.000 liter sekitar Rp 350.000 sampai Rp 400.000 (bukan Rp 1.000.000).

"Rata-rata perhari masyarakat membeli 15 jirigen jadi total sebesar Rp 45.000 perhari. Ada yang membeli kurang dari 15 jirigen tapi ada yang lebih dari 15 jirigen tergantung kebutuhan dalam Keluarga," kata Jacobus.

Air jirigen dijual dan diangkut di mobil pick up milik masyarakat Oenino, Niki-Niki dan Polen. Satu kali jalan, mobil pick up itu bisa membawa 75-100 jirigen air ukuran 20 liter per jirigen.

Bahkan untuk kebutuhan air di kantor camat dan rumah jabatan camat pun, pihaknya membeli air di jirigen setiap hari sekitar Rp 70.000. "Anggarannya diambil dari kebutuhan kecamatan. Tapi kalau anggaran untuk air di rumah jabatan itu habis , maka saya harus merogoh dompet, uang gaji dipakai untuk beli air. Habis mau bagaimana lagi," kata Jacobus.

Menurut Jacobus, ada sumber mata air di Kecamatan Oenino tapi jaraknya jaug sekitar 2-3 km dan debitnya sangat sedikit. Karena itu masyarakat terpaksa membeli air dari mobil tangki atau mobil pick up. (*)

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved