Petugas Kesulitan Mengidentifikasi Anjing Rabies Hanya Karena Soal Ini

Ini keluhan petugas untuk mengidentifikasi anjing rabies atau tidak hanya karena masyarakat melakukan hal ini

Laporan wartawan Pos Kupang, Aris Ninu

POS KUPANG.COM, RUTENG - Kepala Dinas (Kadis) Peternakan Manggarai, Dan Konstantinus mengakui kalau Manggarai merupakan daerah endemik rabies.

Oleh karena itu, pihaknya kini terus melakukan sosialisasi ke semua desa dan kecamatan agar warga sadar dan bersama-sama pemerintah mencegah adanya bahaya rabies.

Konstantinus mengatakan itu ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Senin (2/10/2017) siang, membeberkan, jumlah korban gigitan anjing di Manggarai sejak tahun 2000 sampai Juni 2017 telah mencapai 10.222 korban gigitan.

Yang mana dari jumlah itu ada 60 korban meninggal dunia karena terkena gigitan anjing rabies.

Katanya, ada beberapa kasus gigitan yang korban dibawa ke rumah sakit atau puskesmas tapi anjing makan dibunuh dan dimakan bersama.Tindakan tersebut menyulitkan petugas peternakan mengidentifikasi apakah anjing teridentifikasi rabies atau tidak.

Kadis Dan yang didampingi Kabid Kesehatan Hewan dan Kemasyarakatan Feterinal Dinas Peternakan, Imelda Bai mengungkapkan, pada tanggal 23 September 2017 siang ada warga Kampung Ntango, Desa Ranaka, kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai yang digigit anjing.

"Namun ketika petugas ke Ntango anjing telah dibunuh lalu dimakan. Petugas tidak bisa melakukan identifikasi. Namun dilihat dari cerita korban anjing diduga teridentifikasi rabies. Anjing yang mengigit korban tidak ada tuannya. Bisa anjing dari hutan atau dari tempat lain. Maka itu kami imbau kalau ada korban gigitan anjing jangan langsung dibunuh tapi anjing dibawa untuk diperiksa. Petugas harus mengidentifikasi darah anjing itu agar diperiksa,"paparnya. (*)

Penulis: Aris Ninu
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved