Ini Kisah Staf di Lingkungan Perdhaki Saat Melakukan Sosialisasi Malaria di Pelosok

Tidak gampang bagi seorang petugas kesehatan untuk mensosialisasikan sesuatu. Simak berikut ini

Ini Kisah Staf di Lingkungan Perdhaki Saat Melakukan Sosialisasi Malaria di Pelosok
Pos Kupang/Andri Atagoran
Program Manager Perdhaki Wilayah Maluku, Gracia Samangun 

Laporan Reporter Pos Kupang, Andri Atagoran

POS KUPANG.COM, KUPANG - Sebanyak 30 orang staf Sub Recepient (SR) Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) untuk kawasan Timur Indonesia mengikuti pelatihan program malaria Perdhaki di Hotel Aston Kupang yang telah dimulai sejak Senin, (18/9/2017).

Program Manager Perdhaki Wilayah Maluku, Gracia Samangun dirinya tertantang dengan kondisi alam wilayah Maluku yang sangat sulit dijangkau.

"Sehingga di pelosok, kami bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) di mana kader-kader malaria kami rekrut untuk mengidentifikasi kasus dan mensosialisasikan malaria itu seperti apa," kata Gracia.

"Banyak masyarakat tahu tetapi tidak mematuhi cara pencegahan malaria dan banyak juga masyarakat yang jarang berobat ke puskesmas," lanjutnya.

Sementara itu, Program Manager Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Ende, Ard Dalo mengatakan, berdasarkan perhitungan Annual Parasite Incidence (API), Lembata menjadi penyumbang malaria tertinggi di NTT.

"Ketika kami hadir sebagai mitra dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata kami langsung hadir di daerah yang sulit dijangkau untuk mengubah perilaku masyarakat," kata Ard.

Ard mengatakan, sebelumnya masyarakat menganggap malaria dianggap sebagai penyakit yang tidak berbahaya.

"Sehingga prilaku hidup masyarakat menjadi perhatian utama. Sebelumnya, ketika deman masyarakat mencari obat-obatan tradisional," kata Ard.

Ard menambahkan, masyarakat di Lembata ada yang mengeluarkan uang hingga Rp 300 ribu untuk mendapatkan layanan puskesmas dan pengetahuan tentang penyakit malaria.

"Hal ini membuat kami melakukan pendekatan dini kepada anak-anak untuk mengenal penyakit malaria, dan jentik-jentik nyamuk," ujar Ard.

"Kami bekali mereka dengan senter dan gayung untuk mencari jentik nyamuk dan genangan air di rumah mereka dan mereka sangat jujur memberikan laporan ke kami," lanjutnya. (*)

Penulis: Andri Atagoran
Editor: Marsel Ali
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved