Ketika Para Guru di Kota Kupang Harus Bergabung dalam Komunitas MGMP
Guru adalah real curriculum. Karena itu, seorang guru harus paham betul konsep, proses dan bisa diimplementasikan.
Penulis: Agustinus Sape | Editor: Agustinus Sape
SIBUK dari pagi hingga tengah malam merupakan rutinitas Ibu Angela Hayon dalam beberapa tahun belakangan. Maklum, dia seorang guru SMP yang menyandang predikat guru profesional.
Macam-macamlah tuntutannya. Harus mengajar minimal 24 jam seminggu. Harus siapkan ini, siapkan itu.
Kesibukan itu biasanya dilakukan di sekolahnya, SMP Negeri 8 Kupang, dan di rumahnya di Naimata.
Tetapi, selama sebulan terakhir, kesibukannya meluas. Tidak hanya di sekolah dan di rumah, dia pun harus menghadiri rapat-rapat di luar sekolah bersama guru-guru IPA SMP se-Kota Kupang.
Rapat apa sih? Rapat MGMP, katanya. Musyawarah Guru Mata Pelajaran.
Setiap guru harus bergabung dalam MGMP masing-masing.
Istilah MGMP sebenarnya bukan baru. Entah kapan dimulai, pokoknya sudah lama ada. Tidak hanya dalam skope yang lebih luas seperti tingkat Kota Kupang, di setiap sekolah pun ada MGMP.
Tapi, keberadaan MGMP ini boleh dikatakan sekadar ada, kurang ada geliatnya.
Padahal MGMP merupakan wadah bagi para guru untuk berdiskusi dan melakukan pendalaman materi, berbagi pengalaman dan memberi umpan balik, mengadopsi pendekatan pembelajaran yang inovatif, dan mengubah budaya kerja dan mengembangkan profesionalismenya dalam upaya menjamin mutu pendidikan.
***
Mengapa para guru ini menggelar rapat sana-sani untuk membentuk komunitas MGMP?
Ternyata hal ini berkaitan dengan perubahan program guru pembelajar.
Kalau sebelumnya dikenal Guru Pembelajar Moda Daring, maka mulai tahun 2017, istilah itu tidak dipakai lagi, diganti dengan sebutan baru yaitu Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang disingkat PKB.
Berkaitan dengan perubahan istilah tersebut, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) sudah memberikan sebuah arahan supaya semua guru dan tenaga kependidikan harus terdaftar di dalam kelompok kerja melalui sebuah sistem informasi yang bisa diakses di http://sim.gurupembelajar.id.
Di samping itu, semua guru dan tenaga kependidikan akan menerima akun khusus agar bisa digunakan untuk melihat rapor hasil uji kompetensi guru serta dapat digunakan untuk mendaftarkan dirinya dalam mengikuti program guru pembelajar atau juga menerima berbagai informasi lain dalam hal mengikuti program tersebut di http:/sim-gurupembelajar.id khusus bagi guru dan http://pembelajar.tendik.kemdikbud.go.id khusus untuk tenaga kependidikan.
Kalau seorang guru tidak bergabung dalam komunitas ini, maka dia akan kesulitan untuk mengakses data dirinya dan berbagai informasi lain berkaitan dengan profesinya. Sebab, semua data dan informasi harus diverifikasi dan divalidasi (verval) oleh ketua atau pengurus MGMP masing-masing.
Melihat penting dan dampaknya yang begitu besar bagi nasib guru dan profesionalitas guru, maka Ibu Angela, Pak Alfons Nahak dan beberapa guru lagi, berinisiatif menghubungi guru-guru IPA SMP se-Kota untuk membentuk MGMP IPA, lalu memilih pengurus dan melaporkan hasil pembentukannya kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kota Kupang.
Setelah semua proses pembentukan dinyatakan beres, mereka pun sepakat untuk mengadakan upacara pengukuhan dan pelantikan pengurus dan anggota MGMP IPA SMP se-Kota Kupang.
Selain MGMP IPA, MGMP Bahasa Indonesia pun ternyata hendak melakukan hal yang sama. Maka demi efiensi biaya, kedua komunitas ini sepakat untuk menyelenggarakan upacara pengukuhan bersama-sama di aula Hotel Cahaya Bapa, Jl Herewila, Kota Kupang, Sabtu (9/9/2017).
Hadir pada saat itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Filmon J. Lulupoy, Koordinator Pengawas (Korwas) SMP Tingkat Kota Kupang, Okto Naitboho beserta pengawas lainnya, Ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMP Tingkat Kota Kupang, Hengky Adu, Ketua MGMP Bahasa Indonesia, Beny Mauko, dan Ketua MGMP IPA, Alfons Nahak, S.Si dan ratusan guru anggota MGMP IPA dan MGMP Bahasa Indonesia SMP tingkat Kota Kupang.
Mereka tampil keren dalam balutan jas tenun berbagai motif dari seluruh NTT.
Upacara dimulai dengan pembacaan keputusan dan susunan pengurus MGMP Bahasa Indonesia dan MGMP IPA, dilanjutkan dengan pengukuhan oleh Kadis Dikbud Kota Kupang, Filmon J. Lulupoy.
Filmon berharap pengukuhan MGMP ini bisa meningkatkan mutu pelayanan pendidikan di Kota Kupang.
Upacara pengukuhan diselingi lagu-lagu kebangsaan, penampilan paduan suara dan tarian siswa SMP Negeri 16 dan SMP Katolik St. Maria Assumpta Kupang, yang menambah semarak suasana pengukuhan.
Ketua MGMP Bahasa Indonesia Beny Mauko dalam sekapur sirihnya mewakili MGMP Bahasa Indonesia dan MGMP IPA SMP Kota Kupang mengapresiasi para guru yang sudah bergabung dalam MGMP.
Dia mengatakan, bergabung dalam MGMP bukan sebuah paksaan, melainkan sebuah panggilan.
"Karena tidak mungkin segala urusan bisa diurus oleh satu orang, sepintar apa pun dia. Kita harus duduk bersama membahas masalah kita. Kita berbagi. Ketika kita berbagi, kita tidak kekurangan sesuatu pun. Malah akan bertambah," kata Beny Mauko.
Dia pun mengingatkan para anggota MGMP akan pentingnya memahami SIM PKB (Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan). Juga tentang Ujian Kompetensi Guru (UKG) yang tiap tahun standar pencapaiannya terus naik, dan rapor UKG para guru di NTT yang masih merah.
"Password dan akun kita masing-masing harus disimpan baik-baik dan dirahasiakan. Jangan dijadikan status di medsos," pinta Beny.
Beny pun mengharapkan intervensi anggaran dari Pemerintah Kota Kupang melalui APBD untuk membiayai segala kegiatan MGMP.
Penentuan peserta pelatihan pun diharapkan terlebih dahulu meminta rekomendasi MGMP agar sehabis pelatihan peserta tersebut bisa membagikan pengalamannya kepada segenap anggota MGMP.
Ketua MKKS Kota Kupang, Hengky Adu, menyatakan bahagia atas pembentukan dan pengukuhan komunitas MGMP ini.
"Ini yang keempat pengukuhan MGMP yang saya ikuti di Kota Kupang. Saya lihat selalu ada peningkatan pelaksanaannya. Ini karena dari kita, oleh kita dan untuk kita," kata Hengky.
Dia pun meminta komitmen para anggota MGMP untuk meningkatkan mutu pendidikan.
"Soal ulangan harus dibuat di tingkat MGMP. Jangan tunggu ujian nasional. Bimtek juga harus berorientasi pengembangan semua anggota," tandas Hengky Adu.
Sementara Koordinator Pengawas SMP Kota Kupang, Okto Naitboho meminta para guru untuk menjadikan MGMP sebagai motivator dan inspirator. Tidak sekadar wadah silaturahmi, melainkan wadah untuk saling membantu dan berbagi. Dengan demikian, guru akan kaya model dan metode.
"Mari kita bersinergi secara positif untuk meningkatkan mutu kita," ajak Naitboho.
Sementara Kadis Dikbud Kota Kupang, Filmon J. Lulupoy meminta komitmen para guru untuk meningkatkan mutu pendidikan dan peringkat Kota Kupang secara nasional.
Menurut dia, guru adalah real curriculum. Karena itu, seorang guru harus paham betul konsep, proses dan bisa diimplementasikan.
"Maka, mimpi kita untuk bisa bergeser dari persentase rendah akan terwujud. Jaga kebersamaan dengan baik. Upaya kita akan terlihat di hasil akhir. Masyarakat akan menilai kita," ujar Lulupoy.
Semoga kesibukan pengurus dan anggota MGMP untuk mempersiapkan dan menyelenggarakan acara pengukuhan ini tidak sia-sia. Selamat berjuang dan berbagi. Sukses. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/musyawarah-guru-mata-pelajaran-mgmp_20170917_174138.jpg)