Sirih Pinang Jadi Surat Undangan dalam Tradisi Masyarakat Boru Kedang-Flotim
Ippy Mau suaminya menjelaskan sirih pinang media yang dipertahankan dalam tradisi masyarakat setiap kali mengundang tamu.
Penulis: Felix Janggu | Editor: Agustinus Sape
Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Feliks Janggu
POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Pengamat Seni dan Teater Silvester Petara Hurit terkagum-kagum saat didatangi keluarga muda dari Desa Boru Kedang Flotim, Rabu (30/8/2017).
Ippy Mau dan Olin Uran, kedua pasangan suami istri ini diutus resmi penyelenggara Patia Ea dari Suku Boru untuk mengundang tamu di Kota Larantuka.
Uniknya, media undangan bukan surat undangan seperti biasa. Atau menyampaikan melalui lisan, SMS atau telepon.
Keduanya mengundang tamu ala tradisi masyarakat Boru Kedang yakni dengan membawa Sirih-Pinang.
Datang jauh-jauh dari wilayah perbatasan Flotim-Sikka ke Kota Larantuka, keduanya mengundang tamu untuk mengikuti upacara Pati Ea di desa mereka.
"Ini unik dan pertama kali saya jumpa. Ini tradisi yang baik, mengandung ikatan kekeluargaan," kata Sil Hurit di Duta Kafe saat disambangi resmi suami istri ini, Rabu (30/8/2017).
Sil Hurit mengungkapkan perbedaan mengundang pakai surat dan pakai sirih pinang ala tradisi masyarakat Boru Kedang.
"Undang pakai Sirih Pinang menjadi beban budaya bagi tamu yang diundang jika mereka tidak menghadiri acara itu," kata Sil Hurit sambil menyantap Sirih Pinang yang disuguhkan.
Olin Uran sebelum membuka wadah sirih pinang, menyatakan niat suku Boruk yang mengundang tamu resmi. Olin memberi kesempatan kepada Sil Hurit menyantap sirih pinang itu.
"Kami juga sudah undang Kadis Pariwisata dengan sirih pinang ini. Para tamu yang lain, termasuk para wartawan semua kami datangi satu persatu menyuguhkan sirih pinang," kata Olin Uran.
Ippy Mau suaminya menjelaskan sirih pinang media yang dipertahankan dalam tradisi masyarakat setiap kali mengundang tamu.
"Upacara adatnya dibuka 4 September 2017, dan puncak upacaranya 8 September 2017. Kami undang pakai sirih pinang," kata Ippy Mau.
"Rekadu (undangan) melalui sirih pinang ini sarat pesan kekeluargaan, persaudaraan dan budaya," kata Ippy Mau lagi.
Ippy Mau menjelaskan dalam tradisi budaya masyarakat, rekadu disampaikan minimal dua orang. Biasanya pasangan suami istri.
"Bisa juga orang muda, tapi biasanya suami istri. Karena orang muda secara budaya belum bisa mewakili untuk menyampaikan pesan acara adat seperti itu," kata Ippy Mau.
Ippy Mau menjelaskan tiga unsur yang terkandung dalam upacara adat Pati Ea, yakni Orin Mobo (pondok di kebun), Uma Wanan Tuak Wutun (iris tuak di kebun) dan ketiga Maten Potat Mut Maran.
Orin Mobo mengandung makna kehidupan luhur manusia di dalam rumah serta segala aktivitas lain manusia di dalam rumah.
Ippy Mau menjelaskan Uma Wanan Tuak Wutun, artinya selain mendapatkan sesuatu dari perkebunan, masyarakat juga bisa mendapatkan memiliki aktivitas lain yakni iris tuak.
Acara puncaknya, Maten Potat Mut Maran, bahwa mereka yang diupacarakan pada Pati Ea sudah diselamatkan.
Mereka yang diupacarakan yakni orang-orang yang meninggal dunia dan harus digelar upacara Pati Ea, agar jiwa-jiwa mereka selamat dan duduk di sisi kanan Allah di Surga. (*)