El Tari Memorial Cup 2017

Ini Penjelasan PSSI NTT Mengenai Kericuhan Laga Final ETMC 2017 di Ende

Pengawas Pertandingan (PP) partai final, Bonaventura Djenadut mengatakan, pihaknya mengambil keputusan

Ini Penjelasan PSSI NTT Mengenai Kericuhan Laga Final ETMC 2017 di Ende
ISTIMEWA
Kondisi Stadion Marilonga Ende pascakericuhan laga final antara Perse Ende vs PSN Ngada, Rabu (9/8/2017) malam. 

POS KUPANG.COM -- Ketua Pertandingan kejuaraan sepakbola El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017, Johni Lumba, mengatakan, pihaknya sudah menyelenggarakan pertandingan sesuai regulasi. Namun Johni tak mau mengomentari laporan PSN Ngada kepada PSSI Pusat.

"Nanti ke Pak Bona sebagai pengawas pertandingan yang menyampaikan itu. Sebagai penanggungjawab pertandingan, kami tetap mengacu pada regulasi PSSI," kata Johni yang dihubungi, Jumat (18/8/2017).

Pengawas Pertandingan (PP) partai final, Bonaventura Djenadut mengatakan, pihaknya mengambil keputusan berdasarkan peraturan umum PSSI.

"Mengenai laporan PSN Ngada tentang final Liga 3 ETMC ke PSSI, itu hak mereka. Tapi tuduhan PP bermain untuk memenangkan Ende, sangatlah tidak benar. Pengawas pertandingan mengambil keputusan berdasarkan peraturan umum PSSI, pasal 64 yang dipertegas dengan regulasi Liga 3," ujarnya.

Menurut Bona, regulasi itu berbunyi, kesebelasan atau tim yang meninggalkan lapangan pertandingan, diberi kesempatan selama 30 menit agar masuk kembali lapangan pertandingan. Setelah ditunggu 30 menit belum juga masuk lapangan pertandingan, masih diberi kesempatan untuk 30 menit berikutnya. Setelah 30 menit yang kedua, tim yang bersangkutan tetap tidak memasuki lapangan, maka tim yang bersangkutan dianggap melakukan pemogokan dan dihukum.

"Apabila sudah menang, maka kemenangannya dihapus dan diganti dengan kekalahan 3-0 untuk lawannya. Apabila telah menderita kekalahan, maka gol kekalahannya di tambah tiga gol. Karena pada saat PSN Ngada meninggalkan lapangan pertandingan pada posisi kalah 1-0 dari Perse Ende, maka mengacu pada peraturan dan regulasi yang ada, PSN Ngada dinyatakan kalah 4-0. Jadi pengawas pertandingan hanya mempertegas perintah regulasi," tegas Bona.

Bona menjelaskan, 15 menit sebelum 30 menit yang pertama, perangkat pertandingan mendatangi loker room pemain Ngada. Ternyata pemain PSN Ngada sudah meninggalkan loker room. Bahkan, katanya, panitia mendapat informasi bahwa Bupati dan Wakil Bupati Ngada sudah mengajak pemain PSN untuk melanjutkan pertandingan, tapi ofisial dan pemainnya tidak setuju dan mereka langsung keluar dari loker room.

"Pada saat mereka meninggalkan banchnya, dengan emosinya para ofisial melewati meja pengawas pertandingan, sambil berkata, pengawas tidak becus. Asprov tidak becus. Kami keluar biar kami kalah, dari pada keamanan pemain kami terancam. Padahal peristiwanya, dimenit ke-59 pemain Ngada memukul pemain Ende sampai tergeletak. Saat itu wasit belum memberikan kartu merah kepada pemain Ngada," ujar Bona.

Ia mengatakan, saat suporter berhamburan ke dalam lapangan, aparat keamanan berhasil menghalau mereka keluar.

"Lapangan aman, tapi Ngada lebih memilih keluar lapangan. Banyak orang yang suka menyalahkan orang lain untuk mencari posisi aman. Kalau mereka sudah pulang ke Ngada, apa kita mesti ikut ke Ngada?" kata Bona. (eko)

Penulis: Sipri Seko
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved