VIDEO: Perdhaki Gandeng 51 Kader WPA

Perdhaki kerja sama dengan KPA untuk melakukan penanggulangan TB melalui sosialisasi di kelompok komunitas, arisan, posyandu dan gereja.

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Yeni Rachmawati

POS-KUPANG.COM, KUPANG – Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDAKI) , Keuskupan Agung Kupang mengandeng Komisi Peduli AIDS (KPA)  Kota Kupang untuk memfungsikan kader Warga Peduli AIDS (WPA) menjadi kader TB.

Petrus Kanaf dari Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDAKI) , Keuskupan Agung Kupang, ketika menjelaskan penyakit TB kepada Warga Peduli AIDS (WPA) di Aula Rumah Jabatan Walikota Kupang, Kamis (27/7/2017), menyampaikan penyakit TB atau biasa disebut TBC merupakan penyakit menular dan berbahaya, di Kota Kupang PERDAKI bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang.

Saat ini juga menjalin kerja sama dengan KPA untuk melakukan penanggulangan TB melalui sosialisasi-sosialisasi di kelompok komunitas, arisan, posyandu dan gereja.

Menurut data Dinas Kesehatan, kata Petrus, sekitar 600-an yang tersebar di kota Kupang, paling banyak tersebar di Puskemas Oesapa, Sikumana, dan Alak. Para kader dari PERDAKI lah yang menjangkau pasien TB.

Ia menjelaskan PERDAKI memiliki 48 kader, jumlah ini memang tidak cukup dibandingkan dengan total kelurahan yang ada di kota Kupang.

Maka dari itu hari ini (red/kemarin) PERDAKI berkomunikasi dengan KPA agar kader WPA bisa ikut ambil bagian untuk ikut menanggulangi penyakit TB melalui sosialisasi.

Kader nantinya bertugas untuk menemukan dan mendampingi pasien agar dapat melakukan pemeriksaaan di 11 puskemas di Kota Kupang termaksud Rumah Sakit.

“Puskesmas sangat siap dengan pemeriksaan TB. Ada pengelola khusus untuk TB dengan membuka pelayanan setiap hari. Sekarang kita kolaborasi TB dan HIV, ketika anggota masyarakat diduga menerima TB dan dinyatakan positif maka kami mendorong juga untuk pemeriksaan HIV,” ujarnya.

Kata Petrus, Kader WPA ada 510 kader. Ia berharap ratusan kader tersebut bisa diaktifkan dan menjadi kader TB juga serta pejuang TB.

Pejuang TB tidak saja di PERDAKI tapi di semua komunitas, baik di Dinas Kesehatan Kota. Tapi karena pekerjaan kemanusiaan maka ini menjadi komitmen untuk mencapai titik sukses tidaknya penanggulangan TB di Kota Kupang.

Kendala yang dialami saat ini, lanjutnya, di tingkat kader TB, mungkin karena tidak ada insentif yang rutin dan tetap yang diterima setiap bulan.

“Uang baru mereka memperoleh ketika membawa orang ketika diperiksa, itu pun insentif sangat kecil. Ini membutuhkan gerakan-gerakan semua pihak harus terlibat. Kendala lainnya di tingkat pasien sendiri, ada yang tidak mau periksa. Ada juga yang sudah berobat pun tidak tuntas minum obat. Semua lini ada, kebanyakan masyarakat sebenarnya peduli tetapi belum disentuh dengan sosialisasi yang terus menerus dan berkelanjutan. Apalagi di sini ada yang baru tentang TB, karena kader WAP yang bicara tentang HIV nantinya harus berbicara juga tentang TB,” tuturnya. (*)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved