Ternyata Mandul Bukan Penyebab Utama Perceraian, Lalu Apa?
Pasalnya penelitian sebelumnya telah menyatakan bahwa ketidaksuburan dapat menyebabkan stres, kecemasan, sering bertengkar dan akhirnya bercerai.
Penulis: Djuwariah Wonga | Editor: Djuwariah Wonga
POS-KUPANG.COM- Jika orang yang sudah menikah mengalami kemandulan, apakah pernikahan itu gagal?
Jawabannya tidak. Sebuah studi baru mengklaim bahwa ketidaksuburan bukan merupakan penyebab perceraian.
Hal ini terdengar mengejutkan.
Pasalnya penelitian sebelumnya telah menyatakan bahwa ketidaksuburan dapat menyebabkan stres, kecemasan, sering bertengkar dan akhirnya bercerai.
Tapi studi yang dilakukan pada pasangan generasi baru akan mengubaha perspektif tersebut.
Bagaimana hasil temuan penelitian ini?
1. Meski divonis mandul, pasangan masa kini masih memiliki harapan
Sebagian besar pasangan yang diwawancarai sebagai bagian dari penelitian tersebut mengatakan bahwa metode pengobatan baru telah memberi mereka harapan.
Mereka juga mengatakan bahwa meskipun semua perawatan gagal, mereka bersedia untuk mengadopsi.
2. Pendidikan mengubah banyak hal
Beberapa dekade yang lalu, wanita yang gagal hamil mengalami lebih banyak tekanan.
Selain itu, pria yang gagal menghamili wanita merasa tidak enak dengan kehidupan mereka.
Namun kini hal itu tidak terjadi lagi karena meningkatnya kesadaran di kalangan wanita.
Wanita masa kini tidak memiliki gagasan bahwa hidup adalah tentang membesarkan anak-anak.
3. Banyak hal yang bisa dilakukan selain membesarkan anak-anak
Pasangan hari ini mengakui bahwa ada banyak hal lain yang membuat hidup mereka terasa layak.
Karir, tujuan, petualangan dan perjalanan ke luar negeri adalah beberapa kegiatan yang dapat membantu pasangan tanpa anak menikmati kehidupan secara maksimal.
Sebuah Studi Terbaru Lebih dari 45.000 pasangan tanpa anak, hanya 1% yang siap bercerai hanya karena ketidaksuburan pasangannya.
Studi ini bisa meyakinkan pasangan lain yang masih di bawah ilusi bahwa hubungan gagal jika tidak ada anak.
4. Isu Sosial
Bagaimana dengan kecanggungan sosial yang dihadapi pasangan tanpa anak?
Nah, sebagian besar pasangan yang ikut dalam studi tersebut berasal dari daerah perkotaan negara maju.
Sebagian besar berasal dari keluarga berpendidikan.
Mungkin, itulah alasan mengapa mereka tidak pernah mendapat tekanan dari orang lain di sekitar mereka.
Tapi di daerah pedesaan, pasangan tanpa anak mungkin masih menghadapi tekanan dari teman dan keluarga mereka.
5. Waktu akan mengubah segalanya
Periset mengatakan bahwa segala sesuatunya akan segera berubah, metode kesuburan dapat meningkat di masa depan dan juga pasangan tanpa anak mungkin menemukan cara baru untuk menemukan makna bagi kehidupan mereka.
Jadi, mereka menyimpulkan bahwa ketidakcocokan dan ketidaksetiaan adalah alasan utama perceraian dan ketidaksuburan tidak lagi dipandang sebagai alasan utama perpisahan di dunia sekarang ini.
Sumber: www.boldsky.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pelajari-lima-untuk-meningkatkan-kesuburan_20160105_093934.jpg)