Seameo Recfon Latih Ahli Gizi Awasi Keamanan dan Sanitasi Makanan

Diare berkepanjangan pada anak adalah salah satu gejala penyakit bawaan makanan yang merupakan masalah kesehatan masyarakat.

Seameo Recfon Latih Ahli Gizi Awasi Keamanan dan Sanitasi Makanan
istimewa
Peserta pelatihan Keamanan Pangan dan Implementasi HACCP mengunjungi Rumah Sakit Siloam. 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Apolonia Matilde Dhiu

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (Seameo Refcorn) bekerjasama dengan Poltekkes Kemenkes Kupang mengadakan pelatihan Keamanan Pangan dan Implementasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) bagi ahli gizi dan kesehatan di NTT.

Kegiatan yang berlangsung di Poltekkes Kemenkes Kupang, Kamis - Sabtu (26- 29/7/2017) dibuka Pembantu Direktur I Poltekkes Kemenkes Kupang, Christina Ragu, M.Kes. Peserta sebanyak 41 orang.

Nara sumber dalam kegiatan ini, yakni Dr. Dwi Nastiti Iswarawanti, M.Sc dan Evi Ermayani M.Gz (dari Seameo Refcorn), Juni Gressilda L Sine, STP, M.Kes (Poltekkes Kemenkes Kupang) yang merupakan trainer Seameo Food Safety Course tahun 2017.

Manajer Unit Knowledge Management and Partnership (KMP) Seameo Refcorn, Judhiastuty Februhartanty mengatakan, tingginya prevalensi kurang gizi kronis pada anak NTT mencapai 51,7% (Riskesdas 2013) adalah juga akibat komplikasi dengan diare.

Nara sumber pelatihan Keamanan Pangan dan Implementasi HACCP di Poltekkes Kemenkes Kupang.
Nara sumber pelatihan Keamanan Pangan dan Implementasi HACCP di Poltekkes Kemenkes Kupang. (istimewa)

Diare berkepanjangan pada anak adalah salah satu gejala penyakit bawaan makanan yang merupakan masalah kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, serta menghindari terjadinya kasus keracunan dan insiden penyakit bawaan makanan, perlu dilakukan pengendalian mutu pada setiap upaya produksi pangan.

Menurut Judhiastuty, ahli gizi sebagai salah satu personel di instalasi gizi maupun jasa boga wajib memiliki kompetensi dalam mengawasi masalah keamanan dan sanitasi penyelenggaraan makanan.

"Mereka memerlukan pengetahuan dan keterampilan manajemen mutu yang disebut GMP (Good Manufacturing Practices) dan HACCP. Standar ini secara internasional disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk diterapkan baik tingkat institusi maupun tingkat rumah tangga," katanya, Jumat (28/7/2017).

Dia menjelaskan Seameo Refcorn yang juga merupakan Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) Universitas Indonesia membawa mandat menteri Pendidikan se-Asia Tenggara dalam meningkatkan kapasitas dalam pangan dan gizi baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya kerjasama Seameo Refcorn dengan Poltekkes Kupang sudah berlangsung sejak tahun 2010. Pelatihan yang sama sudah dilaksanakan sebanyak empat kali. Pada awalnya hanya diikuti dosen dan mahasiswa semester akhir di Program Studi Gizi.

Saat ini kesempatan pelatihan diperluas kepada para tenaga gizi dari berbagai institusi. Seameo Refcorn telah melatih 280 ahli gizi dan kesehatan yang bekerja di rumah sakit, puskesmas, maupun industri jasa boga di NTT, yang memiliki kompetensi membuat rancangan HACCP guna menjaga keamanan makanan yang diproduksi.

"Kerja sama ini akan terus dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia khususnya dibidang gizi dan pangan," ujarnya sembari menambahkan pelatihan kali ini berada di bawah koordinasi Ketua Program Studi Gizi Poltekkes Kemenkes Kupang, Regina Maria Boro, DCN, M.Kes.(*)

Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Alfons Nedabang
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved