Terkait Hepatitis, Ada Periode Jendela. Begini Penjelasan Dokter!

sudah ada beberapa tekonologi seperti NAT, CLIA dan ELISA. Kemampuan masing masing tekonologi ini berbeda-beda

Penulis: Maria Enotoda | Editor: Alfons Nedabang
POS KUPANG/HERMINA PELLO
Kepala UTD PMI Provinsi NTT, dr Samson Ehe Teron 

Laporan Reporter Pos Kupang.com, Maria A.E.Toda

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Window period atau periode jendela adalah istilah yang berkaitan dengan penyakit hepatitis maupun HIV/AIDS.

Istilah ini sangat familiar dikalangan orang yang bergelut dalam dunia kesehatan. Masyarakat umum belum tentu mengetahuinya.

Dokter Samson Ehe Teron menjelaskan bahwa window period adalah saat dimana kuman penyakit hepatitis atau HIV/AIDS masuk dan berkeliaran di dalam tubuh manusia.

Keberadaan kuman tersebut tidak bisa dideteksi secara cepat oleh teknologi kesehatan.

Padahal sebenarnya virus penyakit itu sudah bersarang di dalam tubuh.

Rentang waktu deteksinya yang disebut window period, bisa 11 hari bahkan sampai 3 bulan.

Ditemui di ruang kerjanya, Selasa (25/7/2017), Samson Ehe mengatakan teknologi yang belum canggih mempengaruhi proses deteksi penyakit hepatitis secara cepat.

"Tetapi sudah ada beberapa tekonologi seperti NAT, CLIA dan ELISA. Kemampuan masing masing tekonologi ini berbeda-beda," sebut Samson Ehe Teron.

Menurutnya, dari tiga teknologi tersebut, peringkat 1 adalah NAT. Alat ini bisa digunakan untuk mendeteksi hepatitis atau HIV/AIDS secara cepat tanpa menunggu lama.

CLIA kemampuannya dibawah NAT, periode jendalanya bisa mulai 11 sampai 18 hari.

Sedangkan ELSA, window periodnya bisa sebulan sampai 3 bulan, dengan peluang lolos deteksi 2-3 persen.

"NAT saat ini sudah bisa digunakan di RSU Kupang tetapi dibatasi, NAT hanya bisa dipakai untuk memeriksa HIV/AIDS. Sedangkan di PMI sendiri menurutnya masih menggunakan CLIA," ujarnya.(*)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved