Puluhan Dosen di Universitas Islam Ini Diperiksa Polisi Gara-gara Curhat di WhatsApp

Percakapan di grup WhatsApp dosen di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, berujung di kepolisian.

Puluhan Dosen di Universitas Islam Ini Diperiksa Polisi Gara-gara Curhat di WhatsApp
TRIBUNTIMUR
Salah satu dosen FDK Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar ( Uinam), Firdaus Muhammad (baju biru) terlihat medatangi Reskrim Polres Gowa, Rabu (26/7/2017). 

POS KUPANG. COM, MAKASSAR - Percakapan di grup WhatsApp dosen di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, berujung di kepolisian.

Dilasir Kompas.com, puluhan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (Uinam) diperiksa di Kepolisian Resor (Polres) Gowa. Mereka diperiksa satu per satu secara berkala sejak pertengahan Juni lalu.

Pemeriksaan itu menindaklajuti laporan Wakil Dekan III FDK Uinam, Nursyamsiah Yunus Teken, ke Polres Gowa, Senin (5/6/2017). Nursyamsiah merasa telah dicemarkan nama baiknya di grup "WA Save FDK".

Dua orang dia laporkan sebagai pelaku hate speech, yakni Kepala Laboratorium Radio Syiar FDK Irwanti Said dan Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FDK Ramsiah Tasruddin.

Nursyamsiah saat ditemui di Mapolres Gowa menjelaskan, awal kasus ini bermula dari percakapan di grup WhatsApp "Save FDK" yang berisikan 30 dosen.

"Di dalam grup itu dosen semua, saya tidak ada. Ibu Tanti yang mulai percakapan dengan bahasa sesi curhat. Dia katakan saya di situ segel labnya, saya marah-marah sambil mengamuk di sana. Paksa minta kunci lab. Pokoknya sembarang dia katakan," kata pria yang akrab disapa Syamsiah itu.

Permasalahan ini terjadi pada Mei lalu. Dari cerita Syamsiah, sebelum ada tuduhan itu, Syamsiah menegur mahasiswa yang masih melakukan aktivitas di dalam lab radio jelang maghrib.

"Kan sesuai edaran Pak Dekan, tidak ada kegiatan di kampus malam. Jam 6 pagi sampai 6 malam. Sementara saat itu mau mi maghrib dan saya lihat masih ada beberapa mahasiswa di lab," katanya.

Syamsiah pun menyuruh mahasiswa itu pulang dan tidak berada di kampus lagi.

"Setelah saya suruh pulang, saya minta kuncinya baik-baik. Ada saksiku dua orang. Karena saya mau lapor ke dekan.Tapi tidak tahu kenapa ibu Tanti katakan saya marah-marah. Paksa minta kunci sampai mengamuk di dalam lab".

Halaman
1234
Penulis: Agustinus Sape
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved