Kapolres Belu Bantah Penyidik Lakukan Kekerasan terhadap Pelaku Pembunuhan Saat Pemeriksaan

Kapolres Belu AKBP Yandri Irsan membantah penyidiknya melakukan kekerasan terhadap Daniel Seran alias Danker

Kapolres Belu Bantah Penyidik Lakukan Kekerasan terhadap Pelaku Pembunuhan Saat Pemeriksaan
POS KUPANG/EDY BAU
Kapolres Belu, Yandri Irsan 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Edy Bau

POS KUPANG.COM, ATAMBUA - Kapolres Belu AKBP Yandri Irsan membantah penyidiknya melakukan kekerasan terhadap Daniel Seran alias Danker, terduga pelaku pembunuhan petugas sekuriti LVRI Belu, Joao Vicente.

“Gak ada itu,” kata Kapolres Yandri saat dihubungi Pos Kupang melalui ponselnya, Minggu (2/7/2017).

Terkait adanya saksi yang melihat dan mendengar langsung penyiksaan tersebut, Kapolres mengatakan silakan disampaikan dalam sidang di pengadilan.

“Suruh omong di pengadilan. Kalau memang betul begitu,” jawabnya.

Sebelumnya diberitakan, tim kuasa hukum terduga pelaku, Jimmy Haekase dan Sil Nahak, kepada wartawan di Atambua, Sabtu (1/7/2017), mengungkapkan bahwa terduga pelaku pembunuhan terhadap petugas sekuriti LVRI Cabang Belu, Joao Vicente diduga mengalami kekerasan saat menjalani pemeriksaan di Mapolres Belu.

Kedua tersangka Daniel Seran alias Danker dan Herman Berek alias DJ mengalami serangkaian penyiksaan agar memberikan keterangan atau pengakuan bahwa pembunuhan yang dilakukan itu melibatkan pihak lain, selain kedua tersangka dan tersangka lainnya, Marius Mesak.

Menurut Jimmy dan Sil Nahak, informasi mengenai adanya kekerasan dan intimidasi terhadap tersangka itu didengar langsung oleh dua saksi yang berada di Mapolres Belu saat itu yakni Stefanus Atok Bau dan Julio do Carmo.

Bahkan, lanjut Jimmy, saat itu saksi Stefanus sempat menegur dan meminta tersangka untuk mengakui hal yang tidak benar, sebaiknya tersangka dibunuh saja, daripada disiksa.

“Informasi ini merupakan data akurat karena kejadian tersebut disaksikan langsung oleh Stefanus Atok Bau dan Julio do Carmo di Mapolres Belu pada tanggal 1/7/2017 sekitar pukul 02.00 sampai pukul 04.00 dini hari,” tegas Jimmy diamini Sil Nahak.

Terhadap kejadian ini, kedua kuasa hukum sangat menyesalkan dan mengatakan penyidik terkesan tidak profesional dalam mengusut kasus.

“Penyiksaan dan intimidasi ini semata-mata agar tersangka Danker mengakui adanya keterlibatan Stefanus dan Julio dalam kasus ini,” ujar Jimmy. (*)

Penulis: Fredrikus Royanto Bau
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved