Ini Saran Pelaku Pariwisata dan Masyarakat Ende untuk Menata Gunung Meja
Djamal mengatakan, pihaknya menyambut baik gagasan Pemkab Ende membangun taman wisata alam di Gunung
Penulis: Romualdus Pius | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM, ENDE - Masyarakat dan para pelaku wisata di Kabupaten Ende mendukung langkah Pemkab setempat menata Gunung Meja menjadi obyek wisata. Namun disarankan agar tidak menghilangkan unsur alami atau merusak kondisi alam di Gunung Meja serta memperhatikan lingkungan di kaki gunung itu.
Saran ini disampaikan pelaku wisata di Kota Ende yang juga Ketua PHRI Kabupaten Ende, Djamal Al Hadad, serta Muhamad Saleh dan Harum Ismail, warga yang bermukim di bawah kaki Gunung Meja, ketika dihubungi terpisah, pekan lalu.
Djamal mengatakan, pihaknya menyambut baik gagasan Pemkab Ende membangun taman wisata alam di Gunung Meja untuk mendongkrak wisatawan datang ke Kabupaten Ende.
Selama ini, kata Djamal, para wisatawan tidak lama menetap di Ende. Setelah pulang dari Kelimutu mereka jarang menginap di Kota Ende karena tidak ada obyek wisata yang bisa membuat para wisatawan betah di Kota Ende. Karena itu, ketika ada gagasan menata Gunung Meja setidaknya bisa menjadi magnet bagi para wisatawan untuk betah di Kota Ende.
Djamal mengatakan, berdasarkan pengamatannya terhadap perilaku para wisatawan, para wisatawan yang betah di Kota Ende hanya wisatawan lokal baik dalam wilayah Provinsi NTT maupun dari luar NTT.
Mengenai rencana menata Gunung Meja, Djamal menyarankan agar penataan harus tetap memperhatikan unsur alami. Bila perlu perbandingannya 90 persen sampai 95 persen unsur alami dipertahankan. Sedangkan sentuhan lainnya hanya 5 persen. Alasannya, para wisatawan asing lebih senang dengan hal yang bersifat alami dibandingkan dengan sentuhan moderen.
"Diharapkan di atas gunung meja jangan terlalu banyak bangunan yang justru merusak eksotisme dari Gunung Meja itu sendiri," kata Djamal.
Bagi Djamal, pro kontra penataan taman wisata alam Gunung Meja merupakan hal biasa dalam demokrasi. Ia berharap masyarakat yang kontra agar bisa melihat dampaknya di masa mendatang.
"Saat ini memang mungkin belum ada dampak bagi wisatawan. Tapi kalau digarap serius bukan tidak mungkin akan membawa dampak positif bagi masyarakat, tidak hanya untuk masyarakat di kaki Gunung Meja tapi masyarakat lain dan para wisatawan," kata Djamal.
Muhamad Saleh, salah seorang warga yang bermukim di bawah kaki Gunung Meja, Selasa (6/6/2017), mengatakan, mendukung penataan Gunung Meja menjadi obyek wisata baru. Namun ia menyarankan agar penataan itu tetap memperhatikan faktor lingkungan di sekitar kawasan tersebut, terutama lingkungan di bawah kaki gunung meja.
Dikatakannya, penataan Gunung Meja membawa dampak positif bagi masyarakat karena masyarakat bisa berjualan di kaki Gunung Meja. Jualan tersebut untuk para wisatawan yang hendak naik ke Gunung Meja. Selama ini warga juga kerap berjualan tapi dilakukan secara sporadis ketika ada orang yang hendak mendaki ke Gunung Meja.
Muhamad yang juga mantan penjaga Gunung Meja mengatakan, sebelum melakukan penataan, sebaiknya pemerintah berbicara dulu dengan pemilik tanah dan masyarakat di sekitar Gunung Meja sehingga terbangun kesepahaman yang sama soal rencana penataan tersebut.
Muhamad khawatir kalau tidak ada pembicaraan maka gagasan yang positif tersebut tak bisa berjalan dengan baik.
"Sebagai orang yang pernah menjaga Gunung Meja, saya mengharapkan agar pada saat pembangunan nanti tidak merusak kondisi alam yang ada di gunung meja," kata Muhamad.
Warga lain yang bermukim di kaki Gunung Meja, Harun Ismail mengatakan, mendukung pemerintah menata Gunung Meja karena sudah tentu berdampak positif bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Namun ia menyarankan agar sebelum ditata dibicarakan dulu dengan semua unsur terkait sehingga terbangun kata sepakat. "Setelah ada taman di Gunung Meja maka akan semakin banyak warga yang datang ke gunung meja," kata Harun. (rom)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gunung-meja_20170628_183753.jpg)