Sabtu, 11 April 2026

Taman Kota Maumere Ditutupi Pagar Seng, Begini Reaksi Warga Maumere

Anggota DPRD Sikka yang menjadi anggota panitia khusus (Pansus) Taman Kota, juga tak tahu sampai kapan pagar

Penulis: Eugenius Moa | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/EUGENIUS MOA
taman Kota Maumere dengan tulisan Tugu Tsunami. Gambar diambil, Kamis (22/5/2017). 

POS KUPANG.COM, MAUMERE -Enam bulan berlalu proyek pembangunan Taman Kota Maumere dengan Tugu Tsunami senilai Rp 2.546.000.000, telah rampung tapi belum bisa dimanfaatkan masyarakat.

Seluruh kawasan taman dikelilingi pagar seng menutup taman yang ditumbuhi bunga-bunga, bangku-bangku dan kolam yang ada di tengahnya.

Pada siang sampai sore hari, bagian tengah taman itu tampak panas. Bunga-bunga tampak layu. Salah satu pohon palem ditanam di bagian depan, hanya tersisa satu batang pelepah yang hijau dan pelepah yang lainnya kering lalu patah.

"Tidak tahu kenapa sampai saat ini pagar seng sekeliling taman belum dibuka. Padahal proyek ini sudah berakhir bulan Desember 2016. Semestinya sudah mulai dimanfaatkan oleh masyarakat," kata Yosef Karmianto di Maumere, Kamis (22/6/2017).

Anggota DPRD Sikka yang menjadi anggota panitia khusus (Pansus) Taman Kota, juga tak tahu sampai kapan pagar seng ini dibuka dan taman kota ini dimanfaatkan. "Belum ada informasi,"ujarnya.

Marselus Maring, warga asal Talibura ditemui usai belanja di toko, mengaku sejak dibangun taman kota ini, warga yang datang dari kampung kesulitan mencari tempat istirahat siang setelah belanja. Mereka akhirnya memilih duduk istirahat di pinggir pagar seng berbatasan dengan parit penuh sampah plastik dan genangan air kotor berwarna hitam.

Sebelum dibangun taman kota dan pohon-pohon besar digusur, kata Marselus, usai belanja keperluan di toko ia akan menunggu angkutan untuk pulang sambil duduk di bawah pohon yang rindang.

"Kami hanya begini saja (duduk di luar pagar seng). Tidak nyaman, karena bau sampah dan genangan air yang bau. Kalau dulu sebelum pohonnya ditebang di dalam taman ini teduh pada siang hari," ujar Marselus.

Viktor Nekur mengatakan taman kota ibarat anak haram yang telah dilahirkan, apakah akan dibunuh atau dipelihara. Taman yang sudah dibangun, saran Viktor, dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau. Kehadiran proyek ini juga menjadi pertarungan politik legislatif yang belum mencapai akhir.

Ia menyesalkan sekeliling taman kota dipenuhi sampah plastik dan genangan air berwarna hitam pekat yang menjijikan. Namun belum ada kepedulian pemerintah maupun elemen masyarakat menyelesaikannya.

"Keliling taman pada empat sisi, utara, selatan, timur dan barat parit penuh sampah dan ilalang liar. Sama seperti mata yang indah tapi kelopak matanya jelek," kecam Vicktor. (ius)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved