Mahasiswa Asal Papua Ini Ceritakan Kondisi Pendidikan di Daerah Asal, Banyak Sekolah Kekurangan Guru

Naftali Tagi dan teman-teman turun ke jalan untuk menggalang dana demi membeli buku yang nantinya dibagikan kepada para siswa di Papua

Mahasiswa Asal Papua Ini Ceritakan Kondisi Pendidikan di Daerah Asal, Banyak Sekolah Kekurangan Guru
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Mahasiswa Papua turun ke jalan untuk menggalang dana demi meningkatkan pendidikan di tempat asalnya. 

POS KUPANG. COM, CIAWI - Naftali Tagi dan teman-teman turun ke jalan untuk menggalang dana demi membeli buku yang nantinya bakal dibagikan kepada para siswa di beberapa titik sekolah di Papua tempatnya berasal.

Ia mengaku merasa cukup berat beradaptasi dengan mahasiswa non-papua di Bogor karena pendidikan yang sebelumnya ia tempuh dinilai tertinggal.

Naftali mengaku bahwa di daerahnya rentan sekali dengan tindak korupsi sehingga ia dan teman lain yang tinggal di pelosok hanya bisa melongo menunggu pembangunan yang tak kunjung datang.

Maka dari itu, demi pendidikan di daerah asalnya, ia dan teman-temannya kerap memberi pengenalan pendidikan kepada para siswa Papua oleh mereka sendiri.

"Kalo pemerintah di sana korupsi seperti itu. Makanya pelosok-pelosok tidak menjangkau, kasihannya di situ, Jadi istilahnya di sini, kita yang pergi ke sana, pergi ke daerah masing-masing, baru beri pengenalan pendidikan oleh kami sendiri," ujar Naftali kepada TribunnewsBogor.com, Sabtu (10/6/2017).

Ia juga menjelaskan bahwa kekurangan guru di sekolah juga pernah ia rasakan seperti ketika awal masuk kelas 1 SD.

Ia diharuskan pindah ke kelas 6 hanya karena dia dianggap sudah bisa membaca.

"Saya dulu pengalamannya sekolah. Masuk SD, karena saya bisa membaca menulis, mau tidak mau dari guru mereka kasih pindah saya di SD kelas 6," ujarnya.

Kekurangan guru tersebut, menurut Naftali disebabkan oleh akses jalan yang cukup sulit untuk menjangkau sekolah sehingga guru-guru yang ditugaskan pun kerap menolak dikirim ke pelosok.

Mahasiswa asal Dado, Kabupaten Nabire ini juga menjelaskan bahwa menjadi mahasiswa bagi orang Papua itu tidak mudah apabila dilihat dari ekonomi dan latar belakang.

Tidak semua mahasiswa Papua bisa lancar mengenyam pendidikan secara merantau.

"Yang suka dapat bagian-bagian besar, mereka punya anak-anak sendiri gitu yang pendidikan di sini. Jadi kalau kami yang ketinggalan, ya sudah ketinggalan," katanya. (tribunnewsbogor.com)

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved