Memahami Kematian Aiptu Araujo yang Tembak Kepalanya Sendiri

Sebagai bagian dari masyarakat, kita semua patut prihatin atas insiden ini. Akal sehat kita mungkin tidak bisa menerima

Memahami Kematian Aiptu Araujo yang Tembak Kepalanya Sendiri
POS KUPANG/Gaudiano Colle
Keluarga menjaga jenazah Fransisco de Araujo yang disemayamkan rumah duka, Kamis (8/6/2017). 

POS KUPANG.COM - Aiptu Fransisco de Araujo, si polisi periang itu, akhirnya mengembuskan napas terakhir, Rabu (7/6/2017). Araujo sempat sekarat setelah menembakkan kepalanya dengan pistol di kamarnya, Selasa (6/6//2017).

Tim medis Rumah Sakit Bhayangkara Kupang sudah berusaha menyelamatkan nyawanya dengan melakukan operasi kepala, namun tidak berhasil menghentikan keputusan Araujo untuk mengakhiri hidupnya dengan timah panas.

Sebagai bagian dari masyarakat, kita semua patut prihatin atas insiden ini. Akal sehat kita mungkin tidak bisa menerima ketika seorang anggota polisi mengakhiri hidupnya dengan cara ini.
Tapi, kenyataan sudah berbicara demikian. Hanya dengan menyadari dia sebagai manusia, yang pasti memiliki kelemahan, mungkin bisa membantu kita segera memahaminya.

Kalau menyimak cerita dari anak dan istrinya, sepertinya tidak ada hal luar biasa terjadi pada Araujo menjelang insiden itu. Sebagai seorang anggota polisi di Polres Kupang Kota dan seorang bapak keluarga, semua berjalan normal.

Tapi, mengapa Araujo tiba-tiba masuk kamar dan menutup pintu lalu ditemukan terkapar bersimbah darah? Pasti ada masalah, entah terjadi secara tiba-tiba, entah terjadi jauh sebelumnya. Tentu Araujo sendiri paling tahu penyebabnya.

Namun, tidak berarti kita yang lain tidak bisa mengetahuinya.
Dengan berbagai keahlian yang dimiliki kepolisian, mestinya penyebab insiden ini bisa digali dan akhirnya diketahui.

Memang tidak bisa kita hindari selama menjalani hidup di dunia ini kita menghadapi berbagai masalah, entah ringan dan tidak jarang masalah berat. Hal ini sangat tergantung pada kemampuan setiap orang menghadapinya.

Sebagai makhluk berakal budi dan berakhlak mulia, kita semua diharapkan untuk bijaksana menghadapi berbagai persoalan. Ketika tidak bisa kita hadapi sendiri, tidak salah kalau kita membagikan masalah kita kepada sesama. Siapa tahu sesama bisa membantu kita mencarikan jalan keluarnya. Kuncinya, terletak pada keterbukaan kita kepada sesama dan mau menerima masukan dari sesama.

Sebagai makhluk Tuhan, kita pun dimungkinkan untuk memasrahkan diri dan seluruh persoalan kita kepada Tuhan. Tuhan tidak pernah membiarkan ciptaanNya merana. Tuhan senantiasa menolong setiap orang yang datang kepadaNya.

Semoga Tuhan mengampuni segala kesalahan Araujo dan menyambutnya dalam kerajaan surga. Istri dan anak-anaknya pun kiranya diberi kekuatan dan ketabahan untuk menerima musibah ini.*

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved