Paul Liyanto Kagumi Pantai Enagera

Anggota DPD RI asal NTT, Ir. Abraham Paul Liyanto kagumi dengan keindahan Pantai Enagera

Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Kanis Jehola
POS KUPANG/ADIANA AHMAD
BERSIHKAN PANTAI -Anggota DPD RI, Ir. Abraham Paul Liyanto, ikut membersihkan Pantai Enagera dalam aksi Sapta Pesona yang digelar Dinas Pariwisata NTT, Senin (29/5/2017). 

POS KUPANG.COM, MBAY - Anggota DPD RI asal NTT, Ir. Abraham Paul Liyanto, dan Sekretaris Dinas Pariwisata NTT, Drs. Welly Rohimone, M.M, Senin (29/5/2017), ikut membersihkan Pantai Wisata Enagera di Desa Wolo Telu, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.

Bersama para pegiat pariwisata, keduanya ikut membersihkan sampah di pantai itu. Aksi keduanya merupakan bagian dari kegiatan Aksi Sapta Pesona yang digelar Dinas Pariwisata Provinsi NTT bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo di Nagekeo.

Paul dan Welly yang terkagum dengan keindahan Pantai Enagera, mengaku miris dengan minimnya fasilitas dan infrastruktur dasar di lokasi wisata tersebut.

Paul Liyanto dalam sambutannya, mengatakan, potensi pariwisata di Indonesia sesungguhnya lebih kaya dibandingkan dengan negara lain. Hanya Indonesia belum tahu cara menjualnya ke wisatawan.

"Bangun networking. Bangun kesadaran masyarakat soal pariwisata. Masyarakat harus sadar dulu. Pemerintah harus berperan lebih. China, Korea Selatan, Turki, Malaysia, Singapura maju karena pariwisata dan pemerintah berperan penting di sana," kata Paul.

Ia mengungkapkan, pariwisata Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara tetangga. Dalam setahun, kata Paul, kunjungan wisatawan ke Indonesia hanya delapan juta orang. Padahal jumlah penduduk Indonesia saat ini telah mencapai 250 juta orang.

"Bandingkan dengan Malaysia dan Korea Selatan yang jumlah kunjungan wisatawannya mencapai 35 juta orang setiap tahun. Padahal, tidak ada yang luar biasa di sana kalau dibanding Indonesia. Hanya mereka pandai bercerita. Pariwisata itu harus pandai membuat cerita," kata Paul.

Dikatakan Paul, kelemahan Indonesia terletak pada SDM pelaku pariwisata serta peran pemerintah yang belum maksimal. "Kelemahan kita, kerja sendiri-sendiri, makan curi-curi. Pemerintah harus menjadi mesin penggerak pariwisata, masyarakat mendukung, pengusaha yang menjual," kata Paul.

Paul menyayangkan Pantai Enagera yang begitu indah tetapi tidak mampu menarik wisatawan datang ke pantai itu. "Tempat ini luar biasa indah. Ada bukit, ada sawah, ada air, ada pantai. Sebuah pemandangan yang sangat disukai wisatawan mancanegara," kata Paul.

Paul menyayangkan, di tempat yang begitu indah tidak ada homestay (penginapan). "Sulap rumah-rumah penduduk jadi homestay. Dana-dana bantuan untuk homestay ada di beberapa kementerian," katanya.

Selain homestay, jaringan komunikasi seluler baik data maupun voice juga masih sulit di lokasi itu. (dea)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved