Ray Sosok Muda, Visioner dan Berani Menantang Badai

Idenya membangun daerah selalu diperdebatkan, dibicarakan di mana-mana, di rumah, kantor, forum diskusi ilmiah hingga halaman utama media massa.

Editor: Gerardus Manyela
ISTIMEWA
Bakal Calon Gubernur NTT, Raymundus Sau Fernandes 

Laporan Tim Media RSF

Idenya membangun daerah selalu diperdebatkan, dibicarakan di mana-mana, di rumah, kantor, forum diskusi ilmiah hingga halaman utama media massa.

MENJABAT Wakil Ketua DPRD TTU pada usia 25 tahun, Wakil Bupati TTU dan Bupati Timor Tengah Utara (TTU) dua periode, membuat Ray Fernandes tercatat sebagai sosok muda visioner yang matang di panggung politik.

Raymundus Sau Fernandes yang akrab disapa Ray adalah pejabat yang "tangannya selalu kotor" karena setiap bangun pagi mengurus ribuan ekor ternak di kandangnya. Pengalaman yang komplit di legislatif, eksekutif sekaligus peternak sukses merupakan modal berharga bagi calon pemimpin Provinsi Nusa Tenggara Timur ke depan.

NTT butuh pemimpin muda berpengalaman dengan semangat menyala-nyala, pemimpin yang memiliki mental revoluasi serta semangat baja membangun dan melayani masyarakat yang kini masih terhimpit berbagai keterbelakangan. Pemimpin tidak cukup hanya memberi spirit dari balik meja kekuasaan tetapi mesti menjadi tempat belajar yang konkrit bagi rakyatnya.

Keseharian hidupnya sederhana, apa adanya. Pergaulannya luas hingga ke level masyarakat paling bawah sekalipun. Ketika kepentingan rakyat diinjak-injak dialah sosok paling depan yang membela.

Ray bersahaja, tegas dan selalu dicintai rakyatnya. Sering dia tidak "populer" karena kebijakan pro-rakyat dipandang kontraproduktif oleh lawan politiknya. Idenya membangun daerah selalu diperdebatkan, dibicarakan di mana-mana, di rumah, kantor, dalam forum diskusi ilmiah hingga menghiasi halaman-halaman utama media massa di Provinsi NTT maupun media nasional.

Julukan teranyar yang dialamatkan kepada sosok Ray adalah "Bupati TKI", karena mempelopori dan tegas menolak aksi perdagangan manusia. Ray menjadi satu-satunya bupati di Provinsi NTT yang gigih memperjuangkan pemberantasan mafia human trafficking. Terhadap kasus ini kebijakannya jelas, yakni memerintahkan pemberhentian sementara (moratorium) perektrutan dan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari daerahnya.

Ray lebih memilih untuk mempersiapkan warganya melalui pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas dan ketrampilan warga yang ingin bekerja di luar negeri. Program ini dapat dilakukan dengan menghadirkan Balai Latihan Kerja (BLK) di Kota Kefamenanu yang berperan sebagai laboratorium belajar efektif bagi para calon TKI. Ray juga membangun komunikasi lintas sektor untuk menerbitkan regulasi terpadu dalam layanan pengurusan dokumen calon TKI.

Regulasi ini memudahkan askes informasi warga, mencegah cara-cara ilegal sekaligus menghindari praktik mafia yang dilakukan oknum-oknum yang tak bertanggungjawab. Kebijakan tegas tersebut diambil menyusul kematian beberapa TKI asal TTU di luar negeri yang diduga tak wajar.

Selain urusan TKI, Ray juga pernah kesohor lantaran menjadi satu dari tiga bupati sukses di Indonesia yang maju pilkada 2015 tanpa lawan (calon tunggal/lawan kotak kosong).

Tak ada lawan mengindikasikan adanya ketakutan dcalon lainnya untuk menghadapi incumbent yang begitu dicintai rakyatnya. Terbukti pasangan Raymundus -Alo Kobes merebut kembali hati rakyat TTU dengan dukungan 80 % suara yang mengantarnya sebagai bupati untuk periode keduanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved